Nuansa Ndeso

Desember 30, 2009 at 2:58 pm 4 komentar

Sejak kecil, ketika masih anak-anak sampai menginjak SMU, di lingkungan keluarga terbiasa untuk pulang setahun sekali ke Jawa dalam acara mudik. Rumah Eyang saya ada di sebuah desa di Jawa Timur. Walaupun termasuk desa, tapi Eyang saya termasuk salah satu yang berada. Rumah besar yang megah masih berdiri tegak di pinggir jalan raya. Sekarang malah sudah ada warisan restoran yang dibangun Eyang Putri. Secara turun temurun dalam beberapa generasi, ada saja pewaris tahta yang bisa membesarkan usaha keluarga dan berkembang dengan baik.

Makanya walaupun dibilang pulang ke desa tiap tahun, tapi hampir tidak pernah saya main di sawah, di kubangan, naik kerbau ataupun mandi di kali. Suasana pedesaan di rumah Eyang jauh sekali dari kebanyakan nuansa ndeso yang dikenang orang lain. Kalau sedang jalan-jalan, yang dilakukan adalah shopping ke mall, beli baso ke kota, beli nasi pecel, dan sejumlah aktivitas kota lainnya.

Itu adalah desa (atau kota?) kenangan saya selama muda. Kota kenangan itu bernama Madiun.

Setelah menikah, ternyata saya mendapatkan seorang gadis desa yang tinggal dan hidup di sebuah dusun di Jawa Tengah. Ketika pertama kali bertandang pun, ternyata nuansa desa benar-benar kentara. Jauh sekali perbedaannya dari kebiasaan kota yang biasa saya jalani.

Jalan satu mobil di dusun

Baru-baru ini saya pulang ke dusun tersebut untuk beberapa keperluan dan iseng-iseng saya foto beberapa view sudut desa. Beberapa foto juga saya dapat dari liburan lebaran tahun ini.

Carport di rumah mertua

Walaupun tidak punya mobil, mertua punya halaman yang cukup luas dan mampu dimasuki oleh dua mobil. Kebetulan mobil Rover saya bisa istirahat dengan manis di carport tersebut. Kanopinya dari pohon Rambutan.

Kanopi dari pohon rambutan

Jalan di depan pasar seminggu setelah lebaran sudah mulai lengang karena para pemudik sudah pulang.

Jalan di dekat pasar

Beberapa kali saya jalan-jalan ke sawah bareng mertua dan menikmati suasana pedesaan.  Ketika lebaran pergi ke sawah, yang nampak adalah tanaman jagung di atas tanah yang tandus. Tanah kering dan pecah-pecah karena teriknya sinar matahari dan hujan yang tak kunjung turun. Air seakan barang yang sangat langka.  Beberapa hari silam tanah tampak digenangi air. Air sungai mengalir deras. Tanah pun tampak gembur sekali. Beberapa kali terpeleset dengan sukses dan jatuh. Nyaris juga nyebur ke sungai karena tanah licin banget. Alhamdulillah masih ada tangan yang refleks memegang pohon-pohon di sisi pematang.

Di sekitar tanaman inti ditutupi agar tidak tumbuh tanaman pengganggu

Tanaman jagung di sawah

Sungai yang membelah sawah

Sungai pun tampak membelah sawah keluarga dan sawah milik orang lain. Sungai ini tampak hijau dan bersih tidak seperti sungai di daerah Jawa Barat yang cenderung kotor dan berwarna coklat. Sebelum sampai ke sawah, saya harus menyeberangi sungai ini terlebih dahulu. Dingin.

Sawah yang belum ditanami

Sawah di atas masih ada tanaman jagung, tetapi sawah di bawahnya justru terlihat seperti ditelantarkan. Sawah ini justru digenangi air pada saat bulan Desember ini dan siap ditanami padi. Gembur sekali. Baru kali ini, jalan-jalan di daerah persawahan.

Sawah yang digenangi air (1)

Sawah yang digenangi air (2)

Sawah yang digenangi air (3)

Sawah yang digenangi air (4)

Bagi petani yang memiliki ternak sapi, biasanya pada pematang ditanami juga tanaman kalanjono. Ini merupakan pakan ternak sapi yang biasa dijadikan pakan utama. Sempat juga berpapasan dengan para petani yang membawa kalanjono pada sepeda maupun sepeda motor mereka. Ketika mencari pakan kalanjono ataupun suket, para petani mengistilahkan ngarit (memotong tanaman).

Sawah yang digenangi air (5)

Banyak hal yang membuat saya kerasan tinggal di desa istri saya ini. Mulai dari suasana sejuk, keramahan penduduk, rindangnya pepohonan, dan juga banyaknya buah-buahan yang bisa diambil gratis selama sudah diizinkan pemiliknya. Free.

Masih pengen tinggal di kota dengan kesumpekannya ?

Entry filed under: My Journey. Tags: , , , , .

Ayu Tenan… Kategori Baru di Blog Ini

4 Komentar Add your own

  • 1. gyannara  |  Desember 30, 2009 pada 3:39 pm

    Wah rambutannya menggoda, kok ngak ada yang nyampe sih

    Balas
    • 2. Tri Drian  |  Desember 30, 2009 pada 3:47 pm

      Masih ada 1 karung di rumah. Cuma sayangnya rambutan tak semanis yang kau duga…

  • 3. depok mania  |  Januari 5, 2010 pada 11:32 am

    lho, pertanyaan diakhir cerita kok tampaknya retorik?

    kl penulis sendiri gimana? kenapa masih tinggal dikota yang sumpek :D

    Balas
    • 4. Tri Drian  |  Januari 5, 2010 pada 11:38 am

      ane kan tinggal di salah satu desa di Buitenzorg… bukan di kota jakarta, depok, bekasi…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Klik !!

  • 34,449 hits

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.