GPON as Broadband Access Network

GPON sebagai broadband access network merupakan konsep evolusi BPON. Dengan kemampuan downstream mencapai 2,4 gbps dan upstream 1,2 gbps, GPON diharapkan mampu mengakomodasi layanan broadband yang semakin meledak di masa depan. Beberapa layanan yang sekarang sedang berkembang adalah IPTV, video conference, interactive game, video on demand jelas akan memakan bandwidth yang besar.

Oleh karena itu, sayang sekali jika ada operator yang salah memilih teknologi ketika menggelar jaringan mereka. Seperti kita lihat sekarang ini pada teknologi wireless, roadmap GSM versus CDMA, terlihat bahwa GSM semakin unggul dengan teknologi WCDMA karena banyaknya pelanggan existing mereka.

GPON as broadband access network
GPON as broadband access network

Lihatlah GPON sebagai pengganti IP DSLAM di masa depan. Ketika konsep FTTH (fiber to the home), FTTC (fiber to the curb), FTTB (fiber to the building) sudah menjadi wacana yang umum di komunitas broadband sehingga menggunakan fiber adalah suatu keharusan. Ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan dalam migrasi dari legacy network menjadi IP network yaitu cost of capital expenditure (migration cost) dan operational expense (maintenance cost), pilihan arsitektur yang bermacam-macam, muti-vendor interoperability, minimalisasi downtime, security, return of investment. Dengan melihat beberapa pertimbangan ini, maka operator dapat lebih jeli untuk menilai apakah teknologi GPON dapat memberikan nilai tambah pada revenue mereka.

Cost of Capital Expense dan Operational Expense

Capital expense adalah salah satu pertimbangan yang harus diperhatikan karena lamanya waktu return of investment (ROI), harga sebuah services ke pelanggan ditentukan dari dua kata ini. Untuk menggelar service ke pelanggan dibutuhkan pengadaan infrastruktur dari Services Core Network, Transport Network sampai Access Network yang menimbulkan biaya pengadaan. Biaya ini memiliki 2 faktor, yaitu perangkat dan jasa instalasi. Setelah perencanaan capex dihitung, ada satu cost lagi yang harus dipertimbangkan oleh operator, yaitu operational expense yang mencakup biaya perawatan, biaya listrik, biaya troubleshooting, biaya penggantian modul, dan lain-lain.

Pilihan Arsitektur yang bermacam-macam (Choices of multiple architectures)

Broadband access network adalah perangkat akses ke pelanggan yang tidak hanya didominasi oleh standar PON saja, tetapi juga standar yang masih berpedoman untuk tetap menggunakan jaringan copper existing ataupun wireless sebagai interface. IPDSLAM, GEPON, GPON, AON, WiMAX merupakan jaringan akses broadband ke pelanggan. Pilihan GPON sudah tentu memiliki keuntungan dan kekurangan bagi operator.

Multi-Vendor Equipment Interoperabilitiy

Sekarang, Interoperability dengan perangkat yang berbeda brand sudah merupakan suatu keharusan yang harus ditaati vendor sehingga interface harus open dan mengikuti standar yang berlaku. Jika interface dari suatu perangkat hanya terikat dan berlaku bagi vendor itu saja, maka akan ada kerugian bagi operator. Keterikatan terhadap satu vendor saja bisa membuat capex dan opex menjadi besar.

Minimalisasi Downtime

Ketika perangkat di-upgrade baik software, firmware, ataupun hardware, maka yang harus dipikirkan adalah downtime. Lamanya waktu ketika perangkat menjadi non-aktif dan tidak bisa digunakan untuk generate revenue. Ini harus menjadi salah satu concern serius dari operator. Kadang kalau memang perangkat harus dimatikan, maka perangkat dimatikan ketika off-peak. Ada juga issue untuk memberikan layanan in-service software upgrade, yang berarti service tidak akan berhenti ketika ada software ataupun firmware yang akan di-upload ke sistem yang sedang berjalan.

Security

Sistem keamanan pada perangkat yang mentransmisikan data harus terus dijaga agar tidak terjadi pembajakan data yang sedang dikirim. Pelanggan akan mengirim data dengan level privacy yang berbeda-beda. Kadang tinggi, kadang rendah. Oleh karena itu, sistem transmisi data harus dikunci dengan sistem enkripsi yang dapat dihandalkan. GPON sendiri sudah menggunakan sistem AES.

15 thoughts on “GPON as Broadband Access Network

  1. Pak.. sptnya sy sdg ada masalah dengan GPON ini pak..:)
    Saya menggunakan jaringan Metro-E T****m yang menggunakan GPON sbg lastmilenya. ada lokasi Denpasar, Jogja, Semarang, bandung, dan palembang yg menggunakan GPON, masing2 kapastias 5Mbps…backhauling poin to poin ke Jakarta. Aplikasi yang saya lewatkan ke jaringan GPON tsb adalah video streaming dengan protocol UDP Multicast. Jogja, Semarang, bandung Ok.
    Masalahnya, untuk lokasi Denpasar dan Palembang gagal. protocol multicast diblok. trafik tidak lewat sama skali. sy sdh koordinasi dg vendor untuk utak-atik setting konfigurasi GPON-nya untuk meng-allow protocol multicastnya, tp berhari2 tetep jg tidak berhasil. Akhirnya kami pake L2 Switch sebagai pengganti GPON, narik FO lagi sbg lastmilenya.
    kalau mau konsultiasi bisa dihubungi ke jalur japri mana pak ya?
    mohon bisa dishare bahan-bahan materi GPON ke alamat email saya pak goenk.2k@gmail.com
    terima kasih.

    Pak, untuk Denpasar dan Palembang kan harus menyeberang lautan. Jangan-jangan diblok oleh operator tersebut. Mungkin bisa minta dibuka keran untuk multicast…

  2. pak saya mau materi tentang gpon, kebetulan saya sedang pkl, ingin mmbahas tentang gpon dengan spesifikassi jdul analisis teknik enkapsulasi data informasi menggunankan methoda GEM (gpon enkapsulasi), bisa minta tolong kirimkan materi tntang gpon ke email saya pak?? sebelumnya terimakasii..🙂

    lusvia.galuh@gmail.com

    Mbak Galuh, sudah saya kirim via email. Maaf agak lama…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s