Program 2 Ribu sampai Jakarta

Beberapa bulan belakangan ini, kereta menjadi transportasi wajib untuk pulang pergi menuju kantor. Biasanya naik kereta express untuk mengejar waktu pulang yang cepat walaupun dengan konsekuensi harus berdiri dalam kereta. Kadang tertawa kecil dalam hati, bayar 11 ribu, tapi tetap berdiri dalam kereta. Beda banget dengan naik bis yang bisa memilih duduk dan bis akan berangkat begitu kursi penuh. Masa keemasan bis sudah hilang seiring dengan pelarangan bis Antar Kota Antar Propinsi masuk UKI oleh Pemprov DKI. Well, pilihan selanjutnya adalah kereta dan ternyata jauh lebih cepat dari transportasi menggunakan bis.

Saya jadi ingat ketika baru lulus kuliah dan hendak mencari kerja, transportasi yang saya gunakan adalah kereta. Kereta ekonomi lebih tepatnya. Budget saya tidak cukup untuk naik kereta express. Padahal untuk naik kereta ekonomi saat pagi hari sangat tidak menyenangkan. Kereta berangkat berdasarkan jadwal yang telah ditentukan. Keberangkatan dari stasiun awal mungkin masih belum terlalu sesak, tetapi di stasiun kedua, ketiga, keempat dan seterusnya membuat tubuh semakin terhimpit. Posisi di manapun tidak jauh berbeda kondisinya. Menyesakkan. Cuma posisi-posisi tertentu terasa lebih sengsara, contohnya posisi berdiri dekat orang-orang yang duduk, kaki akan kena pinggiran kursi dan tangan terpaksa menahan dorongan orang yang berada di belakang. Menyakitkan. Posisi tengah sebenarnya lebih menyenangkan karena tinggal mengikuti kereta bergerak kemana. Tidak perlu menahan tubuh.

Memori lama. Sebuah memori yang sulit terlupakan. Kenangan itu membuat saya ingin bernostalgia kembali. Sampai suatu saat di tahun 2009 ini, saya penasaran dengan kondisi KRL ekonomi. Apakah masih seperti dulu ? Ataukah sudah berubah ? Kondisi 6 tahun yang lalu.

Jumat yang lalu tanggal empat September, saya bangun agak kesiangan selepas sholat subuh di bulan Ramadhan. Dengan terburu-buru saya berangkat menuju stasiun. Ketika sedang berjalan kaki (olahraga pagi saya), teringat kembali memori KRL ekonomi, yang berakhir pada suatu keputusan untuk mencoba kembali KRL ekonomi. Ya, kalau memang kereta ekonomi menuju Tanah Abang masih ada di stasiun, saya akan beli tiketnya, tapi kalau tidak ada, ya seperti biasa naik kereta ekspress. Ternyata saya beruntung karena kereta masih berdiri dengan gagah di stasiun. Dua ribu rupiah berarti selembar karcis KRL ekonomi. Murah banget ya… Dua ribu bisa sampai Jakarta. Hiruk pikuk kereta ekonomi ternyata tidak banyak berubah. Interior dalam kereta sama seperti dulu. Kotor dan terkesan tidak terawat. Yang sudah berhasil duduk berusaha untuk segera terlelap tidur di kereta. Berusaha menikmati kursi kemenangan… Penumpang yang berdiri sibuk memandangi luar jendela yang pemandangannya jauh lebih baik. Saya juga berusaha mencari posisi berdiri yang nyaman. Berada di tengah-tengah kereta supaya tidak terhimpit orang-orang yang akan masuk kemudian.

Tidak lama kemudian kereta melaju dan semua memori tentang kereta ekonomi berulang kembali. Benar-benar masa yang indah… Sepertinya program 2ribu sampai Jakarta akan segera dilaksanakan kembali mengingat tidak ada kereta ac ekonomi antara jam 7 – 8 yang menuju Tanah Abang.

Siapa yang bersedia berdesak-desakan ?

3 thoughts on “Program 2 Ribu sampai Jakarta

  1. Denger-denger sebentar lagi kereta ekonomi akan diganti kereta AC ekonomi. Tinggal nunggu update blog aja neh “5 ribu 5 ratus sampai jakarta” (kl gak naik harga tiketnya nanti)

    hehehehehe …

    1. Semoga tidak dalam waktu dekat ini mengingat peminat kereta ekonomi masih banyak. Hidup kereta ekonomi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s