Kepayahan di Kereta Sore dan Pagi (3)

Senin (26/10) pagi, lagi-lagi saya naik kereta ekonomi 527. Hari ini terlihat 8 gerbong berdiri dengan gagah di dalam stasiun Bogor yang telah berdiri sejak tahun 1881. Setelah waktu menunjukkan pukul 7.15, saya masuk ke dalam gerbong 1 kereta. Kereta masih kosong dan tidak terlalu sesak. Sekitar pukul 7.25 kereta ini berangkat menuju Tanah Abang. Seperti biasa, kereta ini akan berhenti di tiap stasiun dan mengangkuti penumpang dari Cilebut, Bojong Gede dan seterusnya. Tak dinyana, pada saat kereta berada di perbatasan antara Bojong Gede dan Citayam, kereta berhenti mendadak. Berjalan perlahan dan berhenti lagi. Kereta yang sudah penuh sesak ini membuat senewen para penumpangnya. Setelah berhenti lebih dari 10 menit kereta ini kembali melaju dan dipenuhi oleh penumpang dari Citayam. Kembali kereta bertambah sesak.

Kereta pun kembali melaju menuju stasiun Depok Lama dan dihentikan perjalanannya oleh para petugas stasiun Depok Lama. Para penumpang langsung sewot dan kecewa. Alhamdulillah setelah kereta ekonomi ini ada kereta bumi geulis yang melaju dari Bogor. Kereta ini biasanya tidak berhenti di setiap stasiun, melainkan hanya stasiun-stasiun tertentu seperti Manggarai dan Tanah Abang. Kejadian mogoknya kereta 527 membuat para petugas di stasiun Depok Lama memutuskan bahwa Kereta Rel Diesel Bumi Geulis akan berhenti di setiap stasiun. Langsung saja para penumpang yang turun dari 527 bersiap untuk menyerbu KRD ini. Parah nih, kayaknya peristiwa dorong-dorongan tidak akan bisa dihindari. Di tengah padatnya para penumpang yang akan naik, hukum rimba pun terjadi. Yang kuat dapat masuk kereta dan mendapatkan posisi nyaman sedangkan yang lemah akan mendapat posisi terjepit di kereta. Begitulah hukum rimba kereta ekonomi dalam situasi seperti ini.

Di dalam dunia perkeretaan, dikenal juga istilah mogok dan macet. Jika ada kereta mogok di salah satu lintasan, maka akan terjadi kemacetan yang luar biasa pada kereta-kereta yang mengikuti. Begitupun jika pensinyalan mengalami gangguan, bersiap-siaplah mengalami kemacetan luar biasa pula.

Peristiwa mogoknya kereta berulang lagi pada hari Rabu pagi (28/10). Pagi itu memang saya agak telat sampai stasiun. Ada dua kereta yang nongkrong di stasiun. Kereta 1 set 4 gerbong di lintasan 4 dan kereta 8 gerbong di lintasan 7. Kereta 4 gerbong penuh dengan muatan sedangkan kereta 8 gerbong agak kosong. Mengingat hari sebelumnya selalu kereta 8 gerbong yang berjalan ke Tanah Abang, maka tanpa ragu saya naik kereta ini. Tebakan saya hari ini salah karena kereta di lintasan 4 adalah kereta 527 yang harus saya naiki. Wah, ternyata kereta 8 gerbong ini adalah kereta jam 7.44. Waduh, bakal terlambat banget nih sampai kantor. Kesalahan pertama ini diikuti dengan kenyataan pahit bahwa kereta ini mengalami gangguan pengereman dan hanya berhenti sampai Depok Lama. Para penumpang harus beralih ke kereta jam 7.57. Langsung terbayang, kalau kereta ini bakal super sesak dan naiknya penumpang ke kereta ini akan penuh dengan aksi dorong-dorongan. Terjadilah apa yang harus terjadi… Sadar-sadar, saya sudah berada di antara himpitan para penumpang kelas ekonomi.

Well, perjuangan harus terus berlanjut dan komitmen untuk melanjutkan program 2 ribu sampai Jakarta tidak boleh berhenti sampai di sini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s