Sebuah Opini Tentang IMS

Pernah dengar bagaimana sebuah sistem baru yang akan dibangun di atas platform yang sudah exist dan mengurat nadi di tubuh operator.  Operator tidak akan melakukan penggantian secara menyeluruh infrastruktur yang sudah mature dan mampu mendatangkan keuntungan, tetapi operator akan berpikir untuk melakukan pembangunan secara bertahap. Oleh karena itu vendor harus melakukan riset dan pengembangan serta melakukan edukasi terhadap market mengapa harus dilakukan pembangunan secara bertahap atas infrastruktur yang sudah ada.

Rata-rata infrastruktur yang ada, sudah memiliki service dan feature yang mature dan diterima di masyarakat. Apakah service tersebut sudah cukup ? Kebutuhan masyarakat yang semakin bertambah dan selalu mencari sesuatu yang baru melahirkan perkembangan teknologi yang terus menerus. Proses engineering tidak pernah berhenti. Suatu tantangan yang harus dijawab para engineer untuk memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia. Bayangkan ketika manusia mulai menggunakan telepon dengan menggunakan sistem perkabelan untuk melakukan komunikasi dan sistem switching sederhana untuk melakukan penyambungan nomor. Sistem telekomunikasi sudah mulai memudahkan manusia, tetapi sistem masih kompleks dan membutuhkan investasi besar. Teknologi menjadi mahal. Tidak semua orang dapat menggunakan sistem tersebut. Lalu dilakukan penyempurnaan bagaimana mendistribusikan trafik ke masing-masing user. Dibuatlah sistem core netwok, transmisi melalui sistem transport dan sistem akses. Segalanya menjadi lebih sederhana dan murah. Semua orang dapat menikmati.

Masih ingatkah ketika harga handphone yang besar banget seharga 10 juta lebih… ? Padahal saat itu jaringan operator juga belum sempurna sampai ada istilah Geser Sedikit Mati untuk jaringan GSM. Teknologi tidak berhenti sampai di situ. Teknologi terus merangsek dan para marketer terus melakukan edukasi market. Jaringan operator pun semakin menjamur dan harga handphone mulai turun, mulailah sebagian masyarakat kelas menengah mulai memiliki handphone dan mulai dapat berkomunikasi bergerak. Saat itu harga SIM card masih mahal begitupun tarif bicara per menit. Voucher 100 ribu dapat habis dalam waktu kurang dari 30 menit kalau dipakai untuk berbicara. Apakah teknologi berhenti ? Tidak, karena sebagian besar perekonomian bergerak di sektor bawah. Kelas menengah dan atas hanya dimiliki oleh segelintir orang. Masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah adalah pasar yang cukup prospektif dan merupakan sektor yang menguntungkan bagi operator. Target inilah yang dikejar. Teknologi harus menjangkau semua lapisan masyarakat. Ini adalah jargon yang muncul, walaupun sebenarnya ujung dari semua ini adalah keuntungan belaka. Keuntungan untuk semua pihak. Cukup fair.

Telekomunikasi yang berkembang cukup bombastis pada saat sekarang ini terus menerus melakukan pembenahan diri pada pembangunan infrastruktur. Siapa kalah cepat akan dilibas dalam kompetisi ini. Satu hal yang cukup menarik adalah paket yang ditawarkan para operator cukup berpengaruh siginifikan bagi masyarakat dalam memilih. Masyarakat cenderung semakin cerdas di dalam menggunakan paket terbaik. Wajar ketika saya pernah mendengar kalimat seperti ini : pertempuran di medan telekomunikasi diawali dengan perang coverage (jangkauan operator ke pelanggan) kemudian disusul dengan perang harga dengan metode banting-bantingan harga dan sekarang operator-operator berlomba-lomba untuk melakukan perang kualitas. Walaupun coverage luas, harga murah, tanpa dibubuhi kualitas yang bagus, maka bersiaplah untuk ditinggalkan oleh pelanggan. Operator melakukan setting quality of service (QoS) dan biarkan pelanggan untuk mendapatkan quality of experience (QoE).

Perlombaan belum berakhir. Vendor juga berusaha menemukan teknologi terbaru untuk dikembangkan dan ditawarkan kepada operator. Salah satu yang sekarang masih menjadi kajian bagi seluruh operator adalah teknologi 3 G dengan menggunakan solusi IP Multimedia Subsystem (IMS). Sebenarnya teknologi ini sudah didengung-dengungkan sejak 4-5 tahun silam, tetapi sampai hari ini sepertinya belum ada penerapannya di operator, baik mobile maupun fixed. Mengapa harus menggunakan IMS ? Bisakah IMS dilompati dan menuju teknologi berikutnya ? Berapa cost yang akan timbul jika melakukan replacement teknologi existing ? Pertanyaan-pertanyaan yang selalu meliputi operator dan vendor. Dalam menerapkan teknologi IMS sendiri sepertinya Indonesia sudah harus mulai meniru operator negara lain yang telah sukses menerapkan IMS dan memasarkannya ke masyarakat.

Ada satu kisah dari operator negara lain ketika hendak memasang IMS dalam sistem mereka, maka dilakukan satu proses riset yang sangat panjang dengan kajian yang mendalam. Pengerjaan dan pengembangannya dilakukan oleh periset tingkat doktor. Hasilnya pun cukup mengagumkan. Setiap pengambilan angka merupakan suatu hasil perhitungan dengan asumsi yang cukup banyak. Dalam menentukan suatu angka, ada banyak parameter yang dihitung dan parameter tersebut adalah hasil diskusi internal yang panjang. Setelah meneliti sekian banyak vendor dan pengumpulan informasi, mereka memutuskan untuk menjadikan vendor A sebagai supplier IMS dan juga menjadi partner dalam mengembangkan service dan feature yang akan ditawarkan ke customer. So, pengembangan feature-nya melibatkan diskusi antara operator dan vendor. Setelah dikembangkan, proses tersebut dilanjutkan dengan implementasi di lapangan tetapi masih bersifat gratisan. Obyek penelitiannya pun walaupun gratis dan dibuat terbatas, tetapi diberi form feedback sebagai masukan untuk kemudian dievaluasi. Ada dua riset yang berkembang, yaitu riset teknologi dan riset pasar. Dua-duanya bersinergi. Riset pasar akan mendeteksi kemauan para calon customer dan riset teknologi mengembangkan teknologi yang support keinginan pasar. Waktu riset pun tergolong panjang sekali dan memakan waktu lebih dari setahun, tetapi di dalamnya berisi kegiatan yang super padat. Berbagai teknologi owner dilibatkan, mulai dari penyedia infrastruktur sampai penyedia content dan service. Luar biasa. Magnificent work.

Mampukah Indonesia menirunya ? Saya rasa iya, tetapi kendala yang terjadi di Indonesia adalah banyaknya kepentingan yang bermain. Tidak semuanya memiliki tujuan yang sama dalam mengembangkan suatu solusi. Akhirnya keputusan yang diambil kadang bukan merupakan sinergi dari keputusan sebelumnya, tetapi bertentangan bahkan menghambat proses kreatifitas team. Satu hambatan lagi adalah biaya yang dibuat terbatas dan di-reduce menjadi sekecil-kecilnya sehingga ketika budget ini ditawarkan ke vendor, terjadi ketidaksepakatan antara kedua pihak. Sayang sekali jika suatu teknologi masa depan terhambat oleh masalah dana padahal teknologi ini akan menghasilkan revenue yang sangat menguntungkan operator. Bukankah setiap orang harus berusaha menghasilkan bisnis dengan revenue yang menguntungkan. Kendala yang lain adalah pasar tidak diberikan edukasi yang baik oleh operator sehingga masih ada yang gagap teknologi. Jika pasar sanggup menerima teknologi terbaru, mereka akan membayarnya dengan harga yang pantas.

Mampukah operator menjadikan IMS sebagai platform infrastruktur baru yang akan mendukung layanan mereka di atas jaringan IP ? Waktu bergulir dan memberikan jawaban kepada kita semua tentang kesiapan operator dalam mengembangkan IMS dan memberikan edukasi market kepada masyarakat Indonesia. Mungkin penyebarannya terbatas untuk kalangan menengah ke atas terlebih dahulu sebelum membumi kepada masyarakat menengah bawah yang berada di kampung dan desa-desa. Mari kita sama-sama menciptakan kondisi melek teknologi di lingkungan sekitar sehingga teknologi mampu dinikmati semua kalangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s