My Beloved ‘527’…

Sudah sekitar 5 bulan saya beralih ke kereta ekonomi ketika berangkat pagi. Suka duka naik kereta ekonomi telah saya alami. Dari mulai kereta yang kadang dibatalkan, kereta terlambat, kereta mogok. Kereta pun selalu penuh setiap hari. Walaupun kereta 527 tidak sepenuh kereta yang lain. Mungkin karena jadwal berangkatnya yang sudah agak siang. Setiap kereta punya cerita masing-masing. Setiap penumpang kereta ekonomi pun punya kereta favoritnya masing-masing. Di gerbong-gerbong tertentu ada canda tawa dari para penumpang yang sudah saling mengenal satu sama lain.

Penumpang kereta ekonomi selalu punya agenda setiap harinya untuk mengisi waktu selama perjalanan. Ada penumpang yang selalu naik gerbong yang sama di jam yang sama dan mencari teman-teman senasib untuk sekadar ngobrol bareng dan bercanda ria. Ada penumpang muda (para mahasiswa) yang bergerombol di luar kereta dan naik kereta ketika kereta akan berangkat. Biasanya mereka akan berdiri di dekat pintu kereta karena mereka turun di stasiun yang dekat dari Bogor. Ada penumpang yang selalu cari tempat duduk agar bisa tidur dengan nyenyak. Saking pulasnya, tidur pun tidak terganggu dengan penuh sesaknya penumpang. Ada penumpang wanita yang berusaha cari tempat berdiri di dekat para penumpang pria dengan tujuan bisa dipersilahkan duduk. Seringkali dicuekin oleh para penumpang pria. Ada penumpang ibu-ibu dengan bayi yang digendong yang seringkali diberikan tempat duduk oleh penumpang yang baik hati. Ada penumpang lelaki tua yang masih kuat maupun yang sudah loyo. Semua punya tujuan masing-masing dengan satu alat transportasi yang sama, kereta ekonomi. Baik berpenampilan perlente, maupun kumuh berjubel dalam kereta ekonomi. Ada satu lagi, yaitu rombongan pencopet yang bekerja sama dalam hal mencari nafkah dari saku maupun tas para penumpang lain. Aneh juga ya kalau mencopet di kereta ekonomi ? Bukannya sama-sama gak punya duit ? Hehe…

Well, kereta ekonomi bukanlah kumpulan cerita duka. Kereta ekonomi punya banyak cerita suka dan membentuk komunitas yang erat satu sama lain. Hal ini jarang terjadi di kereta ekspress.  Mungkin para penumpang kereta ekspress punya cerita sendiri dalam perjalanannya. Saya tidak tahu persis karena kebersamaan dengan kereta ini hanya berlangsung sekitar dua bulan saja. Waktu yang cukup singkat untuk mengenal satu sama lain. Kenapa saya pindah ke kereta ekonomi, mungkin bisa dibaca di link berikut.

Alasan pertama saya naik kereta rel listrik (KRL) ekonomi berawal dari sebuah keputusan Pemprov DKI telah mengantarkan saya ke alat transportasi ini. Mungkin KRL ekonomi ini akan saya naiki sampai 2-3 tahun ke depan sampai ada perubahan pelayanan dari pihak penyelenggara KRL Jabodetabek. Sayang sekali kalau harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli tiket kereta ekspress, tapi pelayanan masih buruk. Beberapa kali naik kereta ekspress tanpa AC, telat karena gangguan persinyalan, kereta ekspress yang tidak sesuai jadwal, dan lain-lain. Alasan kedua adalah pemindahan alokasi dana transportasi ke sektor lain yang lebih penting dalam kehidupan rumah tangga. Dengan naik KRL ekonomi, ada program konversi energi. Dana yang disisihkan dari naik kereta ekonomi bisa digunakan untuk membeli makanan.

Kereta 527 memang tidak selalu menggunakan satu – dua set gerbong kereta yang sama setiap hari. Kadang kereta ini hanya terdiri dari 4 gerbong, kadang 8 gerbong. Kereta ini memang memiliki penggemar tersendiri karena kereta ini berangkat ke Tanah Abang pada pukul 7.20. Biasanya setelah kereta ini take-off dari Bogor, kereta ini akan disusul oleh ‘kereta Jenderal’ di Depok Baru, Pasar Minggu dan Manggarai. Cuma seminggu belakangan ini, kereta ini cukup nyaman dinaiki. Susul menyusul pun tidak menyita banyak waktu. Jadwal kereta pun cenderung tepat waktu membuat saya semakin terheran-heran. Kereta 527 pun cenderung tidak sepenuh biasanya. Mungkin juga karena semua kereta berangkat tepat waktu sehingga tidak terjadi penumpukan penumpang di stasiun kereta.

Stasiun Bogor di pagi hari

Apakah ada perubahan pada transportasi kereta api ? Perubahan yang mengarah pada hal yang lebih baik ? Masih menunggu waktu menjawab tantangan yang diberikan pada operator perkeretaapian.

4 thoughts on “My Beloved ‘527’…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s