Kursi Panas

Baru-baru ini salah seorang teman kantor resign dari perusahaan. Turnover lagi nih. Ada saja alasan yang dikemukakan untuk mencari sesuatu yang ‘lebih baik’. Mulai dari salary yang lebih tinggi, training overseas, karir gemilang, bos kurang ok, fasilitas kantor yang minim, kerjaan terlalu banyak, dan lain sebagainya. Justifikasi untuk meneruskan pekerjaan memang tidak salah. Manusia bekerja hampir 30 tahun lebih setelah lulus dari kuliah ataupun sekolah sehingga untuk menjalaninya perlu masuk ke dalam comfort zone dan merasa betah di dalamnya.

Sebut saja suatu kisah di kantor antah berantah yang mengalami pergantian karyawan hanya di sekitar ‘kursi panas’. Kenapa di sebut kursi panas ya karena orang yang berada di atas kursi tersebut tidak pernah bertahan lama untuk bekerja di atas kursi tersebut. Dalam 4 tahun saja sudah orang ke empat yang menduduki kursi tersebut. Yang lucu adalah ketika orang yang awalnya dipekerjakan dengan tujuan untuk membantu orang di kursi panas malah akhirnya menggantikan orang tersebut. Bahkan sekarang orang yang menggantikan pun sudah mengundurkan diri.

Kayaknya perlu dibahas apa saja yang menyebabkan orang pindah ke lain perusahaan. Apakah rumput tetangga selalu lebih hijau ?

Salary yang Lebih Tinggi

Ini alasan yang terlalu sering saya temui ketika orang pindah dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain. Coba bandingkan jika ada dua perusahaan dengan scope pekerjaan yang sama menawarkan dua paket renumerasi yang berbeda. Perlu ada tinjauan khusus mengenai hal ini mengingat ada banyak parameter yang harus dijadikan acuan dalam menilai kebijakan renumerasi. Biasanya dalam paket renumerasi terdapat pokok-pokok yang ditawarkan :

  1. Gaji pokok (basic salary). Standar gaji masing-masing perusahaan berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan kebijakan perusahaan tersebut.
  2. Tunjangan Transportasi. As you know, transportasi adalah satu komponen penting yang Akan menjadi pengeluaran tetap dari seorang pekerja kantoran. Dari rumah ke kantor, harus ada mode transportasi yang dipilih, baik itu jalan kaki, naik sepeda, naik sepeda motor, naik mobil pribadi, naik angkutan umum, nebeng teman satu kantor. Semua punya ‘cost’ tersendiri. Oleh karena itu, perusahaan kadang menjadikan ini sebagai item terpisah untuk menunjukkan apresiasi terhadap karyawan. Ini juga sebagai batasan bagi karyawan dalam memilih mode transportasi yang akan digunakan. Jangan terlalu besar ataupun terlalu kecil.
  3. Tunjangan makan. Di perkantoran, biasanya berjamur tempat-tempat makan yang menyediakan variasi makanan. Dari yang paling murah sampai yang paling mahal. Your money leads your foot to your preference. Kalau uang Anda tidak cukup, jangan pilih yang mahal untuk sekadar ikut-ikut teman. Masak harus bilang “waduh dompet saya ketinggalan..” agar bisa dibayari. Sudah gitu lupa lagi… Jika cekak, pilihlah warung-warung makanan amigos (agak minggir got sedikit) supaya saku tidak jebol.
  4. Tunjangan komunikasi. Manusia selalau butuh berkomunikasi dengan siapa pun, baik dengan keluarga, teman sejawat, ataupun customer. Pekerja kantoran pasti butuh untuk bertanya hal-hal yang menyangkut pekerjaannya. Kalau tidak ada subsidi dari kantor ya terpaksa ambil dari gaji pokok. Artinya gaji pokok itu sudah mencakup semua. All you can use (to fulfill your need or office)… hehe… Cara pembayaran tunjangan ini bisa dengan pemberian berupa cash atau pembayaran tagihan telepon seluler pekerja.
  5. Tunjangan rumah. Kalau perusahaan tempat bekerja adalah perusahaan yang menempatkan Anda di lokasi-lokasi yang jauh dari pusat kantor, maka biasanya ada tunjangan rumah untuk pindah-pindah rumah. Repot juga ya…
  6. Lembur bisa dibayarkan ke karyawan dengan skema yang berbeda-beda. Your company policy decide what is better for their employees..
  7. Tunjangan kesehatan berupa tunjangan rawat jalan keluarga, rawat inap keluarga, kelahiran anak, kacamata, dan hal-hal yang berbau kesehatan karyawan. Semakin besar biaya ini menunjukan reputasi perusahaan tersebut.
  8. Tunjangan jabatan. Kayaknya kalau semakin tinggi ada variable tunjangan ini.
  9. Uang dinas ke luar kota (business trip). Besarannya mengikuti (lagi-lagi) reputasi perusahaan.
  10. Bonus, komisi, fee jika perusahaan untung. Ini yang paling dinanti para karyawan ketika perhitungan laba rugi perusahaan dilakukan.

Setelah 10 item di atas, masih banyak lagi yang bisa diperhatikan karyawan untuk melihat apakah kesejahteraan mereka diperhatikan oleh perusahaan.

Training Overseas

Item ini cukup menggelitik saya karena ini alasan yang cukup jitu juga untuk mengundurkan diri. Jika seseorang bekerja di perusahaan besar, maka wajarlah karyawan selalu dibayang-bayangi oleh training ke luar negeri. Engineer vendor memimpikan training perangkat di negeri asal pembuat perangkat, engineer operator memimpikan training ditemani oleh engineer vendor. PNS pun juga ingin merasakan studi banding ke luar negeri.

Sebenarnya tanpa training pun seseorang dapat mempelajari teknologi luar atau sistem luar negeri, tapi training sangat membantu proses pembelajaran yang lebih cepat. Seorang engineer yang dituntut untuk belajar manual yang begitu banyak akan lebih cepat mempelajari satu sistem besar dengan pembelajaran secara langsung ringkasan solusi. Training bisa dianggap sebagai quick start dari sebuah manual. Kira-kira berapa ya cost yang dapat dihemat perusahaan dengan penyelenggaraan training. Inilah yang perlu dipikirkan para businessman. Setidaknya bisa menghentikan laju para engineer berbakat.

Karir Gemilang

Bayangkan sebuah perusahaan yang menghargai prestasi karyawannya dengan yang tidak. Apakah ada perbedaan di antara karyawannya ? Manusia dilahirkan dengan tradisi untuk berkompetisi dan berjuang untuk bisa lebih baik dari sesamanya. Inilah fenomena yang selalu terjadi. Jadi ketika tidak ada apresiasi dari perusahaan bagi karyawan yang berprestasi, maka bisa saja satu per satu karyawan terbaiknya menghilang dari perusahaan dan merintis karir di perusahaan orang lain.

Ada beberapa HR manager yang bilang kalau penghargaanlah yang diperlukan karyawan dibanding gaji tinggi. I said ’partially comply’ for this statement. Keduanya perlu. Karyawan butuh reward dan punishment. Reward berupa gaji yang tinggi tentu tidak akan ditolak karyawan. Bonus, komisi, fee atau lainnya. Promosi atas kesuksesan menggolkan project tentu akan membuat karyawan semakin bersemangat memajukan perusahaan.

Bos yang Kurang OK

Banyak juga yang mengeluhkan habit bos yang tidak sesuai keinginan hati. Namanya juga manusia pasti terdapat perbedaan. Selama perbedaan tersebut bukanlah hal prinsipal yang merusak idealisme karyawan tersebut, cukuplah bersabar. Kadang cinta datang belakangan toh… Kabur dari satu masalah belum tentu tidak ketemu masalah yang lain. Berusahalah membuat comfort zone di lingkungan kerja. Jika bos tidak bersahabat, berusahalah bersahabat dengan bos…

Fasilitas yang Minim

Kerja dengan peralatan seadanya adalah hal yang biasa ditemukan di lingkungan pekerjaan. Pekerja harus kreatif, ulet, dan siap bertempur kapan saja. Bertempur dengan senjata seadanya kadang menimbulkan kreatifitas yang luar biasa dan tradisi berprestasi. Cuma tetap saja harus ada peralatan minim seorang pekerja. Jika orang yang biasa bekerja di depan perangkat, alangkah baiknya memiliki laptop untuk troubleshoot, provisioning, ataupun commissioning. Jika tidak punya, ya terpaksa harus ada pinjam meminjam laptop umum yang dapat digunakan untuk keperluan di atas.

Kerjaan Terlalu Banyak

Beginilah nasib karyawan. Kadang perusahaan tidak mempunyai uang yang cukup untuk hire karyawan tambahan untuk membantu kerjaan kita. Seperti kata pepatah, roda selalu berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Kesibukan datang mendadak tidak mungkin dihindari karyawan yang memegang produk tertentu dengan banyak customer. Ketika load sedang banyak, sabar saja sambil meminta ada karyawan yang lowong untuk diperbantukan dalam menangani tender atau proyek yang sedang ditangani. Kalau tidak ada, ya harus ditangani satu per satu. Orang yang sudah terbiasa bekerja dengan banyak pekerjaan akan menangani pekerjaan dengan sistem prioritas dan berusaha mengenali tahapan yang akan dilalui ketika mengerjakan tender atau proyek tersebut. Proses tender atau proyek harus dikuasai dan pekerjaan harus dibagi menjadi item-item kecil sehingga pengerjaannya menjadi lebih mudah.

Dan lain sebagainya

Ini perlu dibahas gak ya ? Soalnya banyak banget alasan yang akan bermunculan dan menjadi justifikasi karyawan dalam mencari pekerjaan yang sesuai dengan hati nuraninya.

Kursi panas akan ada pada setiap perusahaan dan harus dihadapi oleh setiap perusahaan untuk membuat kebijakan yang memihak pada kedua belah pihak. Perusahaan senang, karyawan girang. Hehe…

3 thoughts on “Kursi Panas

  1. Ping-balik: Gaji « My Journey

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s