Apakah Mereka Memerlukan Uluran Tangan Kita ?

Judul yang agak aneh ya… Selama bekerja di Jakarta, otomatis setiap hari harus mengikuti rutinitas trasnportasi yang cukup melelahkan. Setiap hari setidaknya 4-6 jam sehari saya akan berada di jalanan. Di sela-sela perjalanan panjang tersebut, kadang-kadang ada kisah-kisah yang saya temui.

Kejadian Pertama

Saat masuk kerja pertama kali di bilangan Sudirman, setiap pulang kerja saya akan berjalan menyusuri jalan sebelum menyeberang jalan. Suatu ketika di suatu senja, langkah saya dikejutkan oleh seorang Ibu yang meminta uang seribu rupiah. Kaget juga melihat ibu ini meminta uang. Saya lihat dari ujung kaki sampai ujung kepala, tidak ada tanda-tanda kalau dia kekurangan. Katanya sih uang tersebut untuk transportasi pulang.

Setelah familiar dengan suasana Sudirman, ternyata wanita ini sering banget minta uang ke orang-orang yang bekerja di Sudirman. Apa dia kerja di Sudirman dan tidak punya uang untuk pulang ?

Suatu saat pernah saya pulang malam dan saya melihat ada sesuatu di balik pohon. Ketika mata saya melihat bayangan tersebut, ternyata wanita itu ada di situ dan langsung meminta uang.

”Pak, ada lima ribu..??” Wah naik nih…

Kejadian Kedua

Masih di bilangan Sudirman, langkah kaki saya dihentikan oleh seorang Bapak. Tiba-tiba saya disodori sebuah KTP. Ketika saya lihat KTP tersebut, alamat yang tertera adalah wilayah Banten. Jauh juga. Anehnya Bapak ini tidak bicara satu kata pun. Hanya wajah memelas yang ditunjukkan. Saya pikir dia tanya cara pulang dari Sudirman ke lokasi di KTP. Langsung saja saya kasih, tahu kalau mau pulang ke alamat ini, sebaiknya naik bis dari seberang. Trus saya langsung jalan lagi.

Setelah beberapa langkah di depan, saya baru sadar sepertinya orang tadi minta duit ke saya… Wah telmi juga nih…

Kejadian Ketiga

Sebelum UKI ditutup untuk bis AKAP, tiap hari kerja saya selalu lewat terminal bayangan tersebut. Untuk sampai sana, saya biasanya naik bis ekonomi. Suatu saat langkah kaki saya diiringi oleh langkah kaki seorang Bapak.

Bapak A : ”bis tadi penuh ya..”

Saya : “iya..”

Bapak A : “banyak copet tadi di bis itu…”

Saya : “(sambil melirik) masak…”

Bapak A : ”iya… saya kehilangan 5 juta Rupiah…”

Saya bergumam dalam hati. Banyak banget uang Bapak ini yang hilang. Saya mempercepat langkah, tapi Bapak ini terlihat tertinggal. Merasa tidak sopan, saya kembali memperlambat langkah saya dan mengiringi langkah Bapak A ini.

Bapak A : ”maaf nih ya dek.  Sebelumnya saya minta maaf dulu…”

Saya : “gak apa-apa Pak. Kok pake minta maaf..”

Bapak A : “saya mau pulang ke daerah x, uang saya dicopet semua. Bisa gak adik bantu ?”

Saya agak jengkel juga setelah tahu orang ini minta duit juga ke saya. Langsung saja saya timpali.

Saya : ”Pak, kalau ada masalah seperti ini, baiknya Bapak ke polisi (sambil menunjuk ke Bapak Polisi yang ada di depan saya)”

Bapak A : ”(dengan nada sedikit marah) gak usah.. gak usah… (terus ngeloyor pergi)”

Padahal penampilan saya biasa saja, kok masih didatangi oleh orang-orang seperti ini. Mungkin masih tampak sisa-sisa kegantengan yang agak bersinar. Hehe…

Kejadian Keempat

Setelah bus AKAP dilarang lewat UKI, akhirnya saya naik kereta dari Bogor ke Jakarta. Stasiun kereta semakin familiar. Apalagi sejak naik ekonomi membuat saya semakin hapal stasiun jalur Bogor – Tanah Abang. Kebiasaan saya adalah nongkrong di stasiun sambil duduk-duduk.

Pada suatu pagi, saya lihat kereta ekonomi sudah ada di rel jalur 6, tetapi waktu keberangkatan masih lama. Oleh karena itu, saya duduk-duduk dulu di luar kereta sambil menikmati udara pagi yang sejuk. Di samping saya duduk seorang pria. Tiba-tiba dia menyapa saya dan mengajak ngobrol. Mulai dari acara demo di Jakarta sampai cerita tentang hampir terjadi perkelahian antara dia dengan teman kerjanya yang katanya suka cari muka atasan. Bahkan katanya temannya hampir dipukul pakai botol. Tak lama kemudian terjadi beberapa dialog berikut :

Bapak B : “kemarin anak saya sakit.”

Saya : “sakit apa ?”

Bapak B : “belum tahu, baru mau ke dokter”

Saya : ”oh gitu…”

Bapak B : ”kira-kira kurang ajar gak ya kalau saya pinjam duit ?”

Saya : ”(langsung menjawab) ya kurang ajar dunk. Kan belum kenal. Mending Bapak cari pinjaman ke teman-temanBapak.”

Bapak B : ”sudah, tapi gak ada yang punya.”

Sambil mencoba mencari solusi, saya mencoba memberikan satu jawaban yang memuaskan.

Saya : ”gimana kalau ke puskesmas ?”

Bapak B : ”sudah, tapi dokternya minta di-rontgen. Kemungkinan kena sakit paru-paru.”

Saya : ”jangan langsung percaya diagnosis dokter. Apalagi untuk penyakit yang serius. Coba cek pendapat kedua.”

Bapak B : ”saya juga bingung. Tadi saja saya nangis gimana cara bawa ke dokternya.”

Saya : ”kalau uang, saya juga susah Pak. Makanya saya kerja untuk cari uang.”

Bapak B : ”ya kalau memang ada uang, ya saya pinjam dulu. Nanti saya ganti.”

Percakapan di atas terhenti karena setengah sadar, saya melihat bayangan kereta ekonomi di belakang saya mulai bergerak. Wah, kereta mulai melaju kencang. Saya coba kejar, eh malah ketinggalan. Setelah sadar, saya kebingungan. Padahal biasanya di stasiun kereta, ada pengumuman keberangkatan kereta. Kok bisa tidak terdengar ya ?

Di tengah kebingungan tersebut, saya mencoba mengingat kembali peristiwa tersebut. Bingung juga dengan situasi tersebut. Cuma sebelum berbicara dengan saya, saya lihat Bapak ini masih bisa merokok di tengah kendala anaknya yang sakit.

Sampai tulisan ini ditulis, saya belum bertemu Bapak itu lagi di stasiun….

Kejadian Kelima

Di suatu malam di Pasar Rebo, di tengah sepinya para penumpang. Maklum, hari sudah mulai larut malam. Beberapa pedagang gorengan dan minuman masih terlihat di trotoar di dekat kolong fly over. Putaran Pasar Rebo terasa hampa dengan jarangnya bus yang berputar. Tiba-tiba ada seorang nenek-nenek berada di dekat saya dan bertanya tentang bus Sukabumi. Saya jawab kalau saya tidak tahu persis tentang bus Sukabumi jika sudah larut malam seperti ini dan saya mengusulkan untuk ‘ngeteng’ atau naik bus sambung menyambung. Ke Ciawi terlebih dahulu baru ke Sukabumi. Setelah itu nenek ini mulai berbicara mengenai ongkos yang dimiliki. Uangnya sepertinya tidak cukup jika harus turun di Ciawi dulu dan bercerita tentang background kenapa uangnya tidak cukup. Saya langsung menyarankan beliau untuk mendatangi pos polisi dan memberitahukan keadaannya. Nenek ini pun menjawab kalau di pos polisi itu terlalu banyak pertanyaan. Tak lama kemudian, saya naik bus ke arah Bogor.

Kejadian Keenam

Kejadian ini persis seperti kejadian kelima dan terjadi di stasiun Bogor. Seorang nenek mendekati saya dan mengatakan kalau ongkosnya kurang, tapi saya bingung juga kok kejadian seperti ini bisa terjadi dalam waktu kurang dari setahun. Bukankah ada polisi tempat mengadu jika ada masalah transportasi.

Penilaian akhir saya berikan pada pembaca, apakah akan menolong mereka dengan memberi uang atau solusi lain ? Solusi yang diberikan kepada mereka tertolak karena yang dibutuhkan hanya uang…

2 thoughts on “Apakah Mereka Memerlukan Uluran Tangan Kita ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s