MPLS-TP (1)

Pada hari Selasa (30/03) saya coba baca tentang MPLS TP yang merupakan kerja bareng antara ITU-T dan IETF untuk menyusun satu standarisasi pada MPLS standar. Beberapa fitur yang tidak dibutuhkan dari MPLS berusaha dikeluarkan dan dibuat satu profile baru yang akan dikembangkan secara terpadu. Awalnya IETF bekerja dalam pengembangan MPLS dan PWE3 sedangkan ITU-T mengerjakan Packet Transport Network (PTN). Dari sumber-sumber inilah dikembangkan MPLS-TP oleh kedua badan tersebut, walaupun sebenarnya ITU-T telah mengadopsi MPLS-nya IETF dan memperkenalkan sebagai T-MPLS. T-MPLS pun di-terminasi dengan adanya draft RFC MPLS-TP. Coba cek di RFC  5317.

Ketika sedang membaca RFC 5654 yang bercerita tentang Requirement of an MPLS Transport Profile dan sampai pada kalimat di halaman 9 tentang Transport Network Overview. Sebuah kalimat singkat, tapi menggambarkan secara nyata apa yang sebenarnya ingin dijelaskan, “The Connectivity services is the basic service provided by the transport network”. Kalimat general ini menjelaskan kalau sebenarnya tujuan transport network adalah memberikan konektivitas (sambungan) antara satu user dengan user lain. Padahal untuk memberikan connectivity itu akan ada kompleksitas protokol, network, dan lain sebagainya sehingga operator harus implementasi QoS, OAM dan protection switching. Untuk sebuah kalimat sederhana ini, sebuah solusi harus menjamin streaming data yang dilakukan customer harus sampai ke tujuannya.

MPLS-TP sendiri memberikan karakteristik dalam melakukan standarisasi, seperti :

  • Connection-oriented
  • konsep client server pada konsep layering
  • membagi menjadi control plane, data plane, recovery requirement, QoS requirements
  • konsep OAM pun dijelaskan dengan detail
  • Konvergensi dari MPLS dan PWE dimasukkan ke dalam PTN

Dari sekian banyak requirement dari RFC ini ada beberapa hal yang cukup bagus diterapkan di MPLS-TP adalah bahwa

  • MPLS-TP sendiri harus mengikuti data plane yang telah diterapkan oleh MPLS dengan minimum subset dari option-option yang ditawarkan oleh standar MPLS. Jadi tidak semua option akan diterapkan oleh MPLS-TP.
  • MPLS-TP juga harus menggunakan standar MPLS yang sudah ada atau existing supaya standar ini tidak murni baru dan independent. Repot juga kalau harus platform MPLS-TP berdiri mandiri sehingga vendor yang mengembangkan standar akan bekerja dua kali dalam menerapkan protokol baru ini.
  • MPLS-TP juga didefinisikan connection-oriented packet switching (CO-PS) technology. Untuk Telco Carrier memang seharusnya berorientasi pada koneksi karena yang data yang dibawa sangat sensitif terhadap delay, jitter. Packet loss, reorder sebisa mungkin dihindari karena bisa terjadi distorsi penerimaan data. Untuk kasus ini, tradisi connectionless sebaiknya dihindari.
  • MPLS-TP harus mendukung unidirectional transport path, co-routed bidirectional transport path, associated bidirectional transport path. Unidirectional berarti trafik yang berjalan searah dari satu end user ke end user yang lain. Co-routed bidirectional transport path didefinisikan bahwa data ataupun streaming data harus dapat ditransmisikan dalam dua arah lewat link dan node yang sama. Jadi jika sudah ditentukan data itu harus lewat link dan node tersebut, maka komunikasi dua arah antara dua end user harus melewati rute yang telah ditentukan tersebut. Hal ini berbeda dengan associated bidirectional transport path yang tidak mengharuskan komunikasi harus melewati satu rute saja, tetapi bisa dua rute berbeda, tetapi masing-masing rute didedikasikan terhadap jalur perjalanan data. Data yang dikirim dari user A ke B akan selalu melewati link dan node yang telah didedikasikan, sedangkan dari B ke A melewati link dan node terdedikasi yang berbeda dari rute pertama.
  • Pada section layering, ada requirement untuk melayani client network seperti IP, ATM, MPLS, Ethernet yang akan ditumpangkan di atas platform MPLS-TP. Maklumlah kalau jaringan yang exist sekarang ini sudah sangat kompleks dan harus bisa lewat pada sistem yang baru dibangun ini.
  • MPLS-TP juga mengharuskan topologi ring dengan 16 node dan sebagai option jika solusi perangkat yang ditawarkan mampu untuk melayani lebih dari 16 node.

Item yang diharuskan dalam MPLS-TP ini masih sangat banyak dan belum sempat saya komentari semuanya. Mungkin ini bisa dijadikan part 1 tulisan tentang MPLS-TP dengan komentar dari saya. Sekedar melengkapi tulisan tentang MPLS-TP. Apalagi sejak tahun 2008, masih banyak tulisan MPLS-TP masih berupa draft dan belum menjadi RFC.  Sepertinya masih banyak hal yang harus didefinisikan dalam standarisasi MPLS-TP sebelum skenario implementasinya menjadi mature di dalam solusi yang ditawarkan vendor.

Bersambung…

One thought on “MPLS-TP (1)

  1. Bagaimana Integrasi antara MPLS-TP dengan MPLS IP? faktor apa saja yg harus dipehatikan? LSP LDP IGP PWE3 ?

    Saya belum tahu secara persis integrasinya. Sebagian bahasan di MPLS-TP masih berbentuk draft. Sedang dalam pembelajaran juga…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s