Kisah Sepasang Muda-Mudi dan Lima Pencopet

Suatu malam di jalan Sudirman, di sudut kantor gedung kotak yang megah, saya beranjak dari tempat duduk dan bersiap untuk pulang. Laptop saya matikan, berkas-berkas yang perlu saya bawa, saya masukkan ke tas. Melangkah ke mesin absensi kantor, saya ketemu rekan kerja. Sebut saja Pak MIK.

Akhirnya saya dan Pak MIK pun turun gedung. Sembari mengobrol kami menyusuri Jalan Sudirman yang mulai remang-remang menuju halte di seberang jalan. Biasanya teman saya ini menyeberang langsung tanpa lewat jembatan penyeberangan, tapi mungkin saat itu dia tersadarkan oleh ajakan saya, akhirnya jembatan penyeberangan merupakan pilihannya. Saya merasa bahagia. Mungkin ini yang dirasakan Superman ketika menyelamatkan seseorang dari marabahaya.. hehehe…

Sesampainya di jembatan penyeberangan, saya melihat di depan saya ada sepasang muda-mudi sedang berjalan berdampingan. Entah mereka sepasang kekasih atau hanya menjalin pertemanan biasa. Sambil asyik mengobrol saya mulai melangkah memasuki jembatan penyeberangan, tapi mata saya tetap melihat sekeliling. Pandangan sekilas saya melihat seorang pria yang awalnya berdiri di tangga jembatan, tiba-tiba bergerak menaiki jembatan. Tak lama kemudian dia tertawa cekikikan dan menyapa temannya yang juga sedang nongkrong. Keduanya pun berjalan mengikuti sepasang muda-mudi tersebut. Jalan naik sedikit, ternyata ada orang ketiga, keempat dan kelima. Akhirnya, lengkaplah sudah 5 sekawan berada di depan saya dan berusaha menempel pada sepasang muda-mudi tersebut. Well, tidak ada kecurigaan dari muda-mudi tersebut.

Melihat gelagat yang tidak baik, saya mempercepat langkah saya untuk mendekati gerombolan lima sekawan ini.  Tentunya teman saya pun berusaha mengimbangi langkah saya. Ketika semakin dekat, tampak bahwa kelima orang ini sadar kalau saya berusaha mendekat gerombolan mereka.  Salah seorang dari  mereka berusaha memperlambat langkahnya dan membuat jarak antara saya plus teman saya dengan sepasang muda-mudi. Mengingat jembatan penyeberangan yang cukup lebar, saya berusaha menyelinap dan berada di antara gerombolan lima sekawan dan berhasil. Akhirnya kami berdua ada di tengah-tengah mereka dan kelima orang ini tidak bisa merapatkan barisan. Grup ini tercerai berai, kekompakannya hilang. Tas yang berada di samping saya, saya pegang erat mengingat yang dilakukan lima sekawan ini adalah salah satu bentuk modus pencopetan di jembatan penyeberangan. Di tengah-tengah jembatan penyeberangan, akhirnya gerombolan ini sadar kalau mangsa mereka tidak bisa dicopet karena gelagat buruk sudah ketahuan. Mereka pun memperlambat langkah dan akhirnya saya dan teman saya mendahului mereka ketika menuruni jembatan penyeberangan. Di bawah saya berpisah dengan pak MIK dan langsung naik Kopaja.

Keesokan harinya, saya ceritakan ke Pak MIK kalau lima orang yang berada di depan saya sedang berusaha mengambil sesuatu dari sepasang muda-mudi di depan. Pak MIK tertegun dan bercerita kalau sesaat setelah saya naik kopaja dan kelima orang ini naik kopaja yang berbeda, Pak MIK juga diberitahu oleh orang yang berada di sekitar situ, kalau saya berusaha dicopet oleh kelima orang ini. Saya tertawa karena saya sudah waspada sejak awal naik jembatan. Tas saya yang melingkar di bahu juga saya pegang erat untuk mengantisipasi jika ada tangan copet yang menggerayangi. Kemungkinan lima sekawan mencopet saya semakin kecil.

Lalu saya beritahu skenario yang awalnya saya buat kalau terjadi apa-apa, yaitu saya akan mendorong pak MIK ke gerombolan lima sekawan dan saya berlari menuruni jembatan untuk mencari pertolongan sambil berteriak minta tolong. “Tolong.. Teman saya dipukuli…”. Pak MIK tertawa… Haha…

Hari itu mengingatkan saya akan kejadian pencopetan yang terjadi pada saya. Pencopetan kerapkali terjadi di jembatan penyeberangan. Dulu daerah yang cukup banyak pencopetnya dengan modus lima orang ini ada di jembatan Karet. Jembatan Karet sebelum dibongkar dan dipindahkan ke fly over Casablance berada di depan Sampoerna Strategic Square. Saya pernah mengalami ketika tangan-tangan para pencopet menggerayangi tas gendong saya. Alhamdulillah waktu itu saya sadar kalau tas saya terasa berat. Lalu saya menoleh ke belakang. Salah satu pencopet langsung menarik tangannya dan berpura-pura tidak tahu. Langsung saja, saya pindahkan tas ke depan. Setelah kejadian itu, ketika saya naik Kopaja 19, saya berusaha melihat jembatan penyeberangan Karet. Dari Kopaja tersebut, terlihat jelas gerak-gerik para pencopet tersebut. Apalagi kalau saat beraksi, mereka berada di tengah jembatan penyeberangan.

Kebiasaaan menggendong tas di belakang berimbas kebaikan bagi para pencopet. Modus mereka adalah mengelompok berlima secara rapat di belakang korban. Salah seorang dari mereka berada di depan untuk membuka tas dan mengambil barang-barang berharga milik korban. Rekan-rekan di belakangnya berusaha menutupi gerak-gerik pencopet dan menerima operan barang dari depan. Kerja mereka cukup efektif.

Saran saya untuk berhati-hati di jembatan penyeberangan karena selain pencopet, ada juga penodong yang kerap berulah di jembatan penyeberangan. Lihat-lihat dulu kalau mau naik ke atas. Kalau aman, baru lewat jembatan penyeberangan. Waspadalah ketika di jalan..

One thought on “Kisah Sepasang Muda-Mudi dan Lima Pencopet

  1. Terimakasih atas informasinya, serba salah ya, kalau lewat bawah (tidak lewat tangga penyebrangan) resikonya tertubruk mobil, kalau lewat atas (Lewat tangga penyebrangan) resikonya dicopet atau di todong. hehehehe

    supaya tidak bertemu risiko seperti di atas, salah satu alternatifnya adalah naik mobil pribadi, tetapi bisa ketemu geng ban kempes…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s