Harga Untuk Si Kaya dan Si Miskin

Berkunjung ke Bogor, jangan lupa beli toge goreng. Mungkin itu salah satu pesan sebelum para turis domestik akan bertandang ke Bogor. Toge goreng merupakan salah satu makanan khas Bogor yang sudah lama ada di Bogor. Walaupun nama toge goreng sebenarnya tidak mencerminkan cara pembuatannya karena pembuatan toge goreng melalui proses perebusan toge lalu ditambahkan bumbu tauco. Beberapa tempat di Bogor mengandalkan toge goreng sebagai salah satu menu utamanya, seperti toge goreng Pak Atep, Pak Iwon, maupun Pak Raisan. Rasanya memiliki kemiripan, tetapi harganya bervariasi.

Pada suatu pagi yang cerah di hari Minggu (09/05), saya bersama keluarga kecil jalan-jalan menuju suatu daerah di pinggiran kota Bogor. Jalan ini merupakan satu alternatif jika menuju jalan tol Jagorawi. Selepas jalan-jalan pada pagi itu, tepatnya pada saat pulang menuju rumah kembali, mata saya tertuju pada sebuah tenda yang menaungi pikulan dengan kupat (ketupat) yang menggandul di salah satu ujung pikulan. Ketika saya perhatikan, ternyata itu adalah penjual toge goreng. Walaupun sudah terlewati, saya pun ambil ancang-ancang untuk putar balik. Maklum rasa penasaran untuk mencoba toge goreng mulai hinggap di hati dan perlahan turun ke perut.

Setelah putar balik, saya parkir motor di salah satu sudut tenda. Senyum ramah penjualnya semakin menarik hati untuk membeli toge goreng tersebut. Langkah pertama yang saya lakukan sebelum membeli adalah menanyakan berapa harga 1 porsi toge goreng. Jawaban yang memuaskan saya terima. Cukup dengan lima ribu rupiah saja. Akhirnya saya pesan toge goreng 2 bungkus. Salah satu kebiasaan yang sulit dihindari, yaitu membungkus toge goreng untuk dinikmati di rumah. Toge goreng dibungkus daun patat terasa lebih nikmat untuk disantap. Setelah saya bayar, kami sekeluarga pulang menuju rumah. Acara sarapan pagi itu diisi dengan toge goreng. Bumbu tauconya benar-benar terasa.

Empat hari kemudian, Kamis (13/05), saya sekeluarga mencoba rute yang sama dan mengarah ke Sentul. Hari itu kami jadi tahu tentang indahnya Sentul dan asrinya kompleks perumahan di daerah situ. Rumah-rumah besar berada dalam cluster-cluster yang dijaga oleh portal-portal keamanan. Jalan-jalan besar nan sepi kami lalui dengan Honda Beat. Setelah putar-putar kompleks perumahan Sentul yang besar sekali dan sudah cukup puas dengan jalan-jalan kali ini, saya pun mengarahkan motor untuk pulang ke rumah. Motor pun dipacu mengikuti rute yang sama.

Saat menyusuri jalan tersebut, mata saya kembali melirik tukang toge goreng yang pernah saya beli beberapa waktu lalu. Saya pun menghentikan motor dan memarkir di depan tukang toge goreng. Mencoba mengakrabkan diri dengan tukang toge goreng, saya ngobrol-ngobrol dengan tukang toge goreng. Ngalor ngidul ke sana kemari. Melihat sepertinya ada menu selain toge goreng, lalu saya tanya menu apakah yang ada di situ. Ternyata ada kupat tahu. Akhirnya kami pesan 1 toge goreng dan 1 kupat tahu. Istri pun menanyakan harga kupat tahu dan dijawab kalau harganya sama dengan toge goreng. Anak saya minta dibukakan salah satu kue kering. Sambil melihat anak makan kue kering, saya lanjutkan mengobrol dengan tukang toge goreng. Tak lama kemudian, toge goreng telah selesai dibungkus. Saya mengeluarkan uang 20ribu dari saku celana lalu saya berikan kepada tukang toge goreng. Setelah diterima, tukang toge goreng mengembalikan 5 ribu Rupiah. Dengan agak terheran-heran, saya tanya kenapa kembaliannya cuma 5 ribu. Bukankah seharusnya kembaliannya 10 ribu. Ternyata jawabannya cukup mencengangkan. Harga toge goreng sekarang 7500 Rupiah. Gubrak…

Kemudian saya tanya lagi  kenapa yang kemarin 5 ribu sedangkan sekarang adalah 7500. Jawabannya adalah porsi sekarang agak banyak. Saya kaget dan terhenyak. Speechless. Benar-benar ceroboh tidak menanyakan dari awal kembali. Saya duduk di kursi kayu panjang lalu ngobrol dengan Istri. Kecewa juga dengan tukang toge goreng ini. Dua harga dalam satu pekan. Istri pun inisiatif untuk tanya yang kedua kali..

Istri : ”Harga ketupat tahu berapa ?”

Tukang toge goreng : ”7500”

Istri : ”Harga toge goreng berapa ?”

Tukang toge goreng : ”7500”

Istri : ”Kalau beli 5 ribu bisa ya ?”

Tukang toge goreng : ”Bisa, Cuma itu agak banyakan…”

Sambil kesal, saya langsung menuju motor dan pergi meninggalkan tukang toge goreng. Sampai di rumah saya cek porsi toge goreng dan ternyata tidak berbeda dengan porsi sebelumnya. Sepertinya kami sekeluarga tidak bisa jadi pelanggan toge goreng di tukang tersebut. Mungkin tukang toge goreng sadar kalau saya pernah beli di situ sehingga dikatakan kalau porsi saat itu agak banyak. Well, nasi sudah jadi bubur. Lima ribu lenyap sudah seiring dengan gemuruh kekesalan di dada. Kekesalan bercampur kekecewaan.

Ternyata tukang toge goreng melakukan sistem dua harga dalam bisnis toge goreng yang dijalankan. Harga untuk si kaya dan si miskin. Pada waktu pertama kali saya datang ke sana, tukang toge goreng mungkin menganggap saya sebagai orang yang biasa saja sehingga harganya bisa murah dan saat kedua saya dianggap sebagai orang kaya. Aneh juga ya… Padahal pada saat datang pertama dan kedua, tidak ada perbedaan sama sekali dari pakaian, kendaraan, dan lainnya. Apakah ini segelintir cermin perdagangan yang dilakukan orang Indonesia ? Walaupun, saya yakin tidak semua pedagang melakukan praktek seperti ini.

Menilik kasus di atas, saya melihat model bisnis ini memiliki beberapa dampak :

  1. pedagang akan kehilangan bakal calon pelanggan tetap,
  2. keuntungan yang sedikit akan menghilangkan kemungkinan keuntungan yang kontinu,
  3. bisa jadi pembeli yang kecewa menceritakan kepada yang lain untuk berhati-hati saat membeli di situ,
  4. merusak nama baik,
  5. merusak citra pedagang,

Tentu saja ada dampak positif bagi pedagang, yaitu mendapatkan keuntungan tambahan walaupun sesaat.

Saran saya sebelum membeli makanan di manapun adalah :

  • menanyakan harga makanan yang dijual jika tidak ada menu yang diberikan,
  • berhati-hati dalam memilih tempat kuliner,

Mungkin kasus ini akan ditafsirkan secara berbeda jika diterapkan pada kasus perdagangan yang lain. Ternyata ada harga untuk si kaya dan si miskin…

2 thoughts on “Harga Untuk Si Kaya dan Si Miskin

  1. hehehe, ente sih pasang tampang parlente, tp usul menanyakan harga makanan sebelum membeli usul yang bagus tuh, jadi inget cerita teman2 tentang harga lesehan di yogja yang suka nembak, akhirnya beberapa kali kesana tidak jadi makan di lesehan deh, padahal belum tentu semua pedagang lesehan di yogja berpraktik seperti itu, coba siapa yg dirugikan. ~ inilah bisnis orang yang tidak berfikir ke depan, demi mengejar keuntungan sesaat, nama baik pun di korbankan

    sayang ya jika pelanggan kabur…

  2. Mungkin lo dianggap bukan pembeli yang potensial untuk membeli secara rutin. Jadi harganya dimainin ama penjual toge goreng😀

    repot nih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s