Bermalam di Depok

Sepekan di awal bulan Juni 2010 ternyata membuat kesibukan bertambah. Ada beberapa tender yang mengharuskan proposal submission pada pekan berikutnya. Malam-malam sepi di kantor pun akhirnya dijalani. Mulai dari pengecekan spek sampai pengumpulan dokumen. Berhubung ini tender pemerintahan, syarat yang diberikan luar biasa banyak dan selalu terkait dengan Keppres no. 80 tahun 2003. Keppres yang mengharuskan supplier barang dan jasa memiliki syarat administrasi dan teknis yang diperlukan. Akhirnya pontang-panting juga buat list dokumen yang harus diserahkan. Kemudian harus minta ke masing-masing agen dan distributor untuk meminta dokumen administrasi dan teknis, mulai dari Surat Penunjukkan, Surat dukungan, Surat Jaminan Purna Jual, Surat Keterangan, Surat Pernyataan, Sertifikat,  sampai  SPT tahunan karyawan pun diminta. Well, terbuka deh gaji beberapa karyawan.

Alkisah, pada hari Jumat (04/06), di penghujung pekan, semua dokumen mulai berdatangan. Dokumen datang pada saat siang hari menjelang sore. Beberapa dokumen mulai diseleksi. Check list yang sudah dibuat mulai diberi tanda centang untuk menyatakan kalau dokumen sudah diperiksa dan dokumen yang bersangkutan masuk ke dalam folder yang akan dikirim via email. Setelah selesai pengecekan, masuk ke agenda berikutnya yang tidak ada kaitan dengan tender, yaitu permintaan presentasi di salah satu kantor customer. Presentasi akan dilakukan pada jam 4 sore. Rajin juga nih customer karena orang lain sudah bersiap mau pulang, eh, ada acara presentasi. Terpaksa persiapan tender ditinggalkan sebentar. Sepertinya persiapan akan berlanjut sampai malam hari dan berpeluang untuk dilanjutkan Sabtu Minggu.

Selesai presentasi tepat jam 5 sore, kemacetan sudah mulai tampak. Jam setengah 6 sore masih berada di Rasuna Said dan sedang menuju perempatang Kuningan – Mampang. Daerah yang lumayan parah kemacetannya karena jalannya lumayan sempit. Jalur cepat hanya muat dua mobil karena sebagian terpakai untuk busway. Sedangkan jalur lambat juga hanya dua mobil juga. Akhirnya mobil dan motor mengantri di jalan tersebut. Motor lebih beruntung karena masih bisa menyelip di antara kerumunan mobil-mobil. Transportasi di Jakarta memang terkenal kejam. Semua moda transportasi sulit diandalkan. Mulai dari kereta, mobil, bus, maupun motor. Semua harus mengikuti aturan kemacetan Jakarta. Ternyata setengah 6 keluar dari kantor customer harus dibayar dengan 1,5 jam bermacet ria di jalan menuju Sudirman. Akhirnya sampai kantor mendekati jam 7 malam. Unforgettable traffic jam

Di kantor, kerjaan lain menunggu. Buat bill of quantities dari daftar barang supplier. Satu dua jam kemudian BoQ kelar. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Lewat sudah kereta ekonomi AC jam 20.50 di Sudirman, juga kereta ekonomi AC jam 21.39 di Cawang terancam tidak bisa diharapkan. Ternyata baru pukul 21.30, pekerjaan selesai. Meluncurlah ke kampung rambutan setelah naik Kopaja 66 dan bis P6. Selama di perjalanan, saya terlelap di bis P6. Ketika bangun, setengah sadar saya lihat kok bis ini seperti dari Kampung Rambutan sedang menuju UKI lagi. Kaget, saya pun langsung turun dan ternyata bis tersebut masih menuju Kampung Rambutan. Pintu gerbang yang saya kira adalah pintu tol ternyata sebuah terowongan. Waduh… Apes juga.

Sesampainya di Kampung Rambutan, setelah naik bis lagi, di Kampung Rambutan sudah sepi. Bis-bis AKAP yang ke Bogor pun sudah tak tampak lagi. Para penumpang pun sudah hampir tidak terlihat. Hujan rintik-rintik pun memaksa penumpang yang tersisa untuk mencari tempat berteduh sambil menunggu bis. Setelah menunggu satu jam dalam kesunyian malam, akhirnya saya putuskan untuk melaju dengan menaiki 112, angkutan kota yang mengarah ke Depok. Dengan satu harapan ada angkutan kota yang mengarah ke Parung dari terminal Depok. Harapan ini pun pupus ketika melihat suasana Depok yang sudah mulai sepi. Hanya satu dua angkutan kota yang terlihat.

Melihat kondisi ini, akhirnya saya sms ke adik saya untuk menanyakan apakah ada peluang untuk pulang ke Bogor via Parung. Adik pun menyarankan untuk menginap karena angkutan ke Cilebut maupun Parung tidak menjanjikan ada transportasi di stasiun berikutnya. Setelah menimbang-nimbang akhirnya saya putuskan untuk menginap di Depok. Kebetulan adik saya tinggal di Depok.  Setelah makan nasi capcay di Jalan Juanda, saya dan adik meluncur ke apartemen tempat dia menginap. SMS ke Istri untuk memberitahu kalau tidak bisa pulang hari ini. Saya memang memutuskan untuk tidak naik taksi ke Bogor karena sayang kalau uang yang lumayan besar dipakai untuk biaya transportasi sekali pulang ke Bogor. Maklumlah kalau kenyamanan belum menjadi salah satu prioritas dalam hidup saya. Masih berjuang dalam kesederhanaan. Akhirnya, jam dua saya baru bisa tidur terlelap di atas kasur.

Pengalaman yang cukup membuat saya sadar kalau transportasi bis semakin tidak bisa diandalkan untuk menjadi alternatif transportasi kereta. Pengalaman ini tidak membuat saya jera untuk mencari alternatif solusi yang lain untuk menghindari hiruk pikuk pulang pergi naik kereta.

One thought on “Bermalam di Depok

  1. Tetap semangat boss… tahun depan akan dapat 2,5 lagi dan disitulah kenyamanan akan menjadi prioritas utama

    siap menyambut bonus tahun depan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s