Dua Sapi Masuk Kandang

Baru-baru ini, geliat bisnis di pedesaan sudah menunjukkan sinarnya. Setelah membaca beberapa fenomena dalam dunia sapi, akhirnya diputuskan dalam bulan Juni ini sudah harus ada sapi yang masuk kandang. Kebetulan dari desa, terdengar juga kabar ada beberapa orang yang siap memelihara sapi dengan sistem bagi hasil. Klop.

Setelah menelusuri beberapa artikel internet dan juga daftar harga sapi di bulan Idul Adha yang lalu. Saya mendapat kesimpulan kalau harga sapi akan melonjak saat Idul Adha melebihi harga pasaran biasanya. Dengan membeli pada saat sekarang dan memelihara selama 5 bulan, sapi itu akan dijual kembali saat lebaran haji nanti. Sejalan dengan pertimbangan tersebut, saya konsultasi dengan mertua dan mendapat masukan berharga yang menghasilkan keputusan untuk memilih sapi Jawa atau Peranakan Ongole (PO). Sebelumnya sudah ada dua ekor sapi yang menghuni kandang sapi di desa. Sapi Simpo dan sapi simmental anakan. Dua-duanya adalah betina.

Memang sempat terpikir untuk mengembangkan indukan sapi betina bunting. Siklusnya setelah dihitung adalah sekitar 15-16 bulan sekali panen penjualan pedet usia 4-5 bulan. Sapi melahirkan setelah mengandung 9 bulan 10 hari. Setelah itu pedet dirawat selama 4-6 bulan sebelum dijual. Indukan juga diberi jarak beberapa bulan sebelum dibuahi lagi dengan cara inseminasi buatan. Hasilnya juga cukup lumayan untuk penjualan pedet.

Selain penjualan pedet hasil dari sapi betina bunting, salah satu yang biasanya dilakukan oleh oleh para peternak adalah penggemukan sapi. Bakalan sapi dibeli saat berusia 1-2 tahun atau 2-3 tahun, lalu digemukkan sampai bisa dijual lagi. Makanannya pun dicampur antara makanan rumput dan konsentrat untuk mendapatkan hasil yang optimal. Jenis sapi yang dipilih beragam, dari mulai Simental, Limousine, Simpo, Limpo, PO, Brahman Cross, dan Brangus. Banyak ragamnya, tergantung dari indukan dan benih IB yang ditanam.

Penggemukan sapi yang normal bisa berkisar 3-4 bulan, 6 bulan. Tergantung kesiapan ternak yang akan dipanen. Jika dapat bakalan yang bagus, disertai cara beternak yang baik, maka peternak berpeluang mendapat hasil yang maksimal. Salah satu momen yang ditunggu para peternak adalah Idul Adha. Ini juga momen yang saya tunggu. Sekitar 6 bulan yang lalu, fokus saya adalah peternakan kambing. Setelah mendapat masukan dari seseorang rekan kantor yang berkecimpung di bisnis sapi, akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke peternakan sapi. Tentunya dengan menjalin kemitraan dengan peternak desa. Dua sisi yang saling membutuhkan dan menghasilkan simbiosis mutualisma. Peternak di desa membutuhkan modal, sedangkan saya membutuhkan bantuan tenaga. Sinergi dari keduanya bisa menghasilkan keuntungan. Alhamdulillah, masih ada sisa uang setelah penjualan dua ekor kambing jantan saat Idul Adha.

Akhir tahun 2009, sapi betina bunting dibeli dari salah satu bakul di Yogya dan menjadi sapi perdana dalam awal bisnis ini. Pembayarannya pun bisa dicicil menjadi dua kali pembayaran dengan term and condition, pembayaran kedua dilakukan setelah pedet lahir. Pembayaran kedua pernah saya coba lakukan sebelum pedet lahir, tetapi bakul sapi ini menolak dengan halus dan menyatakan sesuai perjanjian semula bahwa pembayaran kedua dilakukan setelah kelahiran pedet. Akhirnya saya mengalah.

Sapi Jantan Pertama

Awal bulan Juni 2010, saya mengalirkan dana ke desa untuk dibelikan sapi. Kali ini ada peternak di desa yang mengajukan diri untuk gaduh sapi. Setelah berdiskusi mengenai kesiapannya, seperti kesiapan kandang, kesiapan pakan ternak dan lain sebagainya, pembelian sapi pun dilakukan. Rencananya ada dua sapi yang akan masuk kandang. Sekitar tanggal 6 Juni adalah hari pasaran di kota tersebut. Mertua dan beberapa kerabat, termasuk yang akan memelihara sapi, ikut masuk ke dalam pasar hewan. Setelah didapat sapi yang bagus secara perawakan, dibelilah satu ekor sapi. Peternak sapi tidak berani langsung memelihara dua sapi. Takut kurus. Sapi kedua akan dibeli sepuluh hari kemudian. Well, tidak apa-apa selama masih bulan Juni. Ternyata sapi yang dibeli itu FOB ya, belum DDP. Jadi ada ongkos transportasi juga yang lumayan besar, yaitu antara 80 – 100 ribu Rupiah.

Sapi Jantan Kedua

Hari Rabu (16/06), sapi kedua dibeli di pasar hewan yang sama. Harganya lebih mahal sedikit, tetapi bobotnya pun lebih besar dari sapi yang dibeli sepuluh hari yang lalu. Sapi PO ini pun diantar ke kandang setelah urusan jual beli selesai. Lega juga setelah mendengar sapi telah tiba di kandang dengan selamat.

Dua sapi telah masuk kandang. Total ada empat sapi yang akan diternak. Setelah hitung-hitungan yang dilakukan, masih ada uang untuk beli sapi jantan ketiga. Sebenarnya masih ada juga dana untuk sapi keempat, tapi sayang alokasi dana sapi keempat saat ini sudah masuk ke dalam anggaran belanja konsumtif berupa motor. Permintaan istri dan anak yang sulit ditolak.

Hmmmm….

3 thoughts on “Dua Sapi Masuk Kandang

  1. Mantap … mudah-mudahan segera mendapat julukan “drian sapi”

    Sejalan dengan program “Sarjana Masuk Desa”…

  2. Blog yang menarik…
    Membacanya bisa membuat saya tersenyum mengingatkan pada salah satu karakter teman kos waktu masih di Karet, yang setia dengan teh kotak.

    Hehe… Hitung-hitung isi waktu luang.. kunjungi juga blog Indra dan Ayah Nara…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s