Hari Yang Menggelitik…

Hari Senin (16/08) adalah hari kejepit antara hari libur akhir pekan dan hari Kemerdekaan. Hari itu, setiap karyawan tetap masuk seperti biasa kecuali bagi para karyawan yang mengajukan cuti.

Pagi itu, saya bergegas ke stasiun dan membeli tiket kereta ekonomi. Setelah itu duduk sebentar di jalur 2 karena jalur ini jalur ekspres maka ada tempat duduk yang cukup layak untuk diduduki. Saya memperhatikan suasana stasiun saat itu, terutama kereta ekonomi yang akan berangkat jam 7.00. Cukup penuh juga. Tak lama kemudian terdengar pengumuman dari penjaga stasiun sambil meminta maaf karena pada hari itu kereta ekonomi jurusan Tanah Abang dibatalkan. Waduh, berarti harus naik kereta ekonomi yang terlihat penuh itu. Lunglai jalan menuju jalur 7 tempat kereta parkir. Sambil mengamati setiap gerbong yang saya lalui dengan harapan siapa tahu masih ada yang agak lega. Saat di gerbong 6, ada panggilan dari teman seperjalanan selama seminggu ini. Panggil saja beliau EI. EI sudah masuk ke dalam kereta. Akhirnya saya masuk ke gerbong 6 yang lumayan agak penuh. Mudah-mudahan saja kereta ini tidak penuh sesak sepanjang perjalanan menuju Cawang. Doa yang terkabulkan karena para penumpang penjaga pintu menghalangi para penumpang di stasiun setelah Bogor. Penumpang Cilebut, Bojonggede, Citayam rata-rata tertahan dekat pintu kereta dan tidak berhasil melakukan penetrasi ke tengah kereta. Alhamdulillah…

Ternyata kereta ini tidak sepenuh yang saya kira. Beberapa kali saya naik kereta 601 (7.00) jika terjadi pembatalan kereta ke Tanah Abang, yang memang tidak sepenuh kereta jam 7.44. Setelah menikmati perjalanan dalam kereta, sampailah kereta di stasiun Cawang yang dituju. Menyusuri pinggiran rel dan melewati terowongan, tibalah mencari transportasi selanjutnya. Dua lembar uang seribuan dan satu logam lima ratus pun disiapkan. Ketika menyusuri Jalan MT. Haryono, terlihat bis 921 akan masuk tol. Saya yang biasanya jalan ke halte terlebih dahulu tergoda untuk menyeberang menuju pintu tol. Akhirnya setelah mendapat dukungan dari EI dan juga bis 921 menghalangi jalan MT. Haryono, saya pun menyeberang ke pintu tol. Sayangnya, saya dan EI tidak berhasil naik karena banyak penumpang bergerombol di pintu masuk. Otomatis tengah bis agak kosong, tapi tak ada jalan untuk masuk. Terpaksa mengurungkan niat untuk naik bis tersebut dan menunggu bis selanjutnya.

Di tengah terik matahari plus asap knalpot yang tidak bersahabat, saya dan beberapa calon penumpang bis lainnya menjadi tontonan para pengendara mobil. Ketika sedang asik menunggu bis, ada sebuah Kijang Innova yang menurunkan jendela depan mobilnya. Tak dinyana muncul wajah salah seorang teman lama saya yang dulu pernah bekerja bareng di Batam. Sekarang beliau kerja di Cikarang. Sambil senyam-senyum meledek. Haha.. What a small world? Jadi ingat iklan yang menampilkan sebuah keluarga yang memperhatikan orang-orang kurang beruntung di sekelilingnya dari balik jendela mobil.

Tawar Menawar Tarif Bis

Setelah dua peristiwa yang menggelitik ini, datanglah sebuah bis AC 80 Kampung Rambutan – Blok M. Dari kejauhan, terlihat seperti bis 89, tapi ternyata tidak ada warna ungu yang menjadi keunikan bis 89. Bis 80 semakin mendekat dan mendekat. Bis ini bertarif 6000 Rupiah. Cukup mahal untuk jarak sedekat Cawang Sudirman. Saya tawari teman saya EI, dia pun menampik tawaran tersebut. Mending naik ekspress tadi daripada tadi berlelah-lelah naik ekonomi kemudian naik 80, celoteh EI. Ya sudahlah, terpaksa menunggu bis selanjutnya. Dalam hitungan menit, bis 80 yang mengantri mulai mendekati pintu tol. Kondekturnya pun turun menawarkan bisnya untuk dinaiki para penumpang. Para penumpang tak bergeming karena tarifnya mahal. Tak lama kemudian ada dialog menggelitik antara EI dan kondektur.

Kondektur    :           ”Blok M.. Blok M…”

Calon penumpang tak bergeming…

EI                    :           ”2500.. 2500..”

Kondektur melirik EI…

Kondektur    :           ”3000-an… 3000-an…“

Mendengar ini, saya langsung menyongsong sambutan tersebut sambil mengajak EI untuk naik. Cuma beda 500 tidak terlalu masalah. Calon penumpang di belakang pun langsung menuju bis 80 tersebut. Ternyata di dalam bis hanya ada sedikit sekali penumpang. Pantas saja langsung diskon 50% dari tarif normal. Aneh juga ada tarif bis bisa ditawar sampai setengahnya. Hati saya tertawa walaupun hanya sebuah senyum yang tersungging di bibir.

Bergegas ke Stasiun Sudirman

Akhirnya sampai kantor dan bisa ngadem sampai pulang di sore hari. Selama bulan puasa ini, kantor menerapkan pulang lebih awal setengah jam. Biasanya jam 5 sore keluar kantor, di bulan puasa bisa pulang jam setengah 5 sore. Saat pulang kantor, saya dan beberapa teman bergegas untuk mengejar kopaja 19 yang akan kembali membawa ke stasiun Sudirman. Di depan kantor sudah terlihat macet merayap pada dua arah, baik yang menuju bunderan Senayan, ataupun yang mengarah ke Semanggi. Terpaksa deh berjalan ke halte Polda. Setengah berlari menuju halte. Trotoar Sudirman ini tidak hanya dilalui para pejalan kaki, tapi juga pengendara motor. Repot juga nih. Mendekati halte Polda, terlihat satu kopaja 19 yang sudah dekat dengan ujung kemacetan. Akhirnya, berlarilah mengejar kopaja tersebut dan menaiki kopaja dengan keringat bercucuran.

Jalanan cukup lancar sampai Setiabudi, tapi mendekati Bunderan HI, kopaja parkir di jalan. Ternyata barisan paling depan terpaksa berhenti karena ada penguasa jalan yang akan lewat. Waduh, ada rombongan pejabat lewat. Kalau lihat plat nomornya sih plat merah dengan tulisan ”Indonesia 2”. Kopaja berhenti antara 5-10 menit. Dalam hati sudah menggerutu karena sudah tidak mungkin mengejar kereta Bogor Ekspress jam 16.48. Sia-sia sudah perjuangan kali ini. Setelah rombongan pejabat pemerintahan lewat, kopaja bergerak dan melaju ke stasiun Sudirman. Sampai di stasiun Sudirman, babak baru berlari dimulai lagi. Di dalam stasiun, terlihat di jalur 2, banyak penumpang masih menunggu. Secercah harapan muncul kalau kereta ekspress menuju Bogor belum datang. Pas ketika kami selesai melewati eskalator  dan berjalan di jalur 2, kereta pun datang. Lari lagi deh mencari tempat yang agak lega di KRL. Posisi menentukan kenyamanan berkereta.

Hari itu cukup menggelitik bagi saya karena banyak peristiwa aneh yang terjadi. Mulai dari pembatalan kereta, ketemu teman lama di pintu tol, tawar menawar tarif bis AC, perjuangan mengejar kereta yang hampir sia-sia. Alhamdulillah peristiwa seperti ini jarang terjadi.

Sepertinya masih kuat untuk pulang pergi Jakarta Bogor dalam beberapa tahun ke depan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s