Bersabar Dalam Niaga

Pasang surut perdagangan memang selalu terjadi dan sudah dianggap lumrah oleh setiap pengusaha. Apakah hal ini juga disikapi dengan wajar oleh para pengusaha pemula yang baru merintis usaha? Kendala demi kendala datang beriringan menghantam usaha yang sedang dijalani sehingga roda penjualan berada di bawah. Yang lebih mengerikan adalah ketika roda yang berputar belum berada di titik nadir padahal pengusaha pemula tersebut sudah kepayahan menghadapi masalah yang terjadi. Perlu ketahanan yang kuat dari pengusaha pemula untuk menghadapi market yang ketat.

Setiap permulaan harus dipahami sebagai perjuangan panjang dan pemula harus menggambar kurva yang cukup curam jika ingin cepat sukses. Setelah steady state (keadaan tunak) perjuangan akan lebih ringan dan pencapaiannya pun sudah mulai pada kondisi puncak. Keadaan tunak tidak selamanya stabil. Pada fase ini pun kondisi sebenarnya masih naik turun, tapi selama masih berada di sekitar keadaan tunak. Maka tidak apa-apa. Jadi ingat kontroler PID. Setelah mencapai keadaan tunak pun masih berosilasi pada target yang diinginkan sampai stabil.

Setiap pengusaha pemula biasanya bermimpi yang indah-indah sebelum mewujudkannya. Tak selamanya mimpi yang indah itu akan indah juga saat pelaksanaanya. Ketika mulai berusaha, hambatan akan terus berdatangan. Seseorang yang optimis akan melihat hambatan tersebut sebagai tantangan yang harus diselesaikan, tetapi seorang yang pesimis akan melihat hambatan sebagai masalah. Dua sikap yang akan memiliki hasil yang berbeda.

Sabar ternyata memiliki nilai yang lebih juga jika menghadapi kendala. Terburu-buru mengambil keputusan di saat sedang panik bisa berimplikasi buruk di kemudian hari. Buatlah selalu di awal pengambilan keputusan dua parameter, yaitu parameter input sebelum mengambil keputusan dan parameter output (target) sesudah keputusan dihasilkan. Tujuannya untuk melakukan evaluasi dan pembelajaran.

Sebagai contoh, baru-baru ini, saya melakukan investasi pada ternak sapi. Melihat peluang peternakan sapi yang cukup besar, saya mengambil keputusan untuk membeli sapi indukan yang akan diambil anakannya. Pada saat pembelian sapi indukan, harga sapi sedang dalam keadaan puncak. Sapi potong maupun sapi indukan harganya memang tinggi terutama sapi-sapi jenis tertentu pada saat itu. Ternyata beberapa bulan kemudian harga sapi anjlok drastis dengan adanya impor sapi dan siap jual. Biasanya sapi impor digemukkan terlebih dahulu sebelum dijual kembali di Indonesia. Dengan penggemukan ada nilai tambah saat di Indonesia. Sepertinya harga sapi impor jauh lebih murah dari sapi yang diternak di Indonesia. Otomatis para peternak tradisional yang biasa beternak 1-3 ekor kelabakan menghadapi gempuran sapi impor. Logikanya, dengan adanya ribuan sapi, tidak perlu dilakukan penggemukan pun pengimpor bisa untung. Cukup margin yang kecil dan perputaran impor yang sering, maka keuntungan dapat dengan mudah diperoleh. Semoga saja ini tidak terjadi di kalangan importir kita. Ambil sisi positifnya saja dari peristiwa sapi impor, yaitu harga sapi potong maupun indukan terkoreksi dengan baik sehingga harganya menjadi mulai normal kembali. Tidak seperti sebelumnya yang cukup tinggi.

Walaupun demikian, pemerintah pun sebaiknya melindungi para peternak di Indonesia dan mengawal swasembada daging dengan baik. Sayang sekali, jika semua lini perdagangan, semua produk adalah produk impor. Pengusaha di Indonesia hanyalah sekumpulan pedagang saja. Tak terbayang jika tiba-tiba Indonesia diembargo oleh negara-negara besar gara-gara kebijakannya dianggap nyeleneh. Bisa kelimpungan Indonesia memenuhi kebutuhan rakyatnya. Beras impor, sapi impor, susu impor, kedelai impor. Pertanian dan peternakan rakyat dihajar langsung oleh produk-produk impor. Akhirnya Indonesia hanyalah pasar yang besar dan menggiurkan bagi para produsen dunia. Negara importir terbesar..

Kembali ke permasalahan investasi penulis pada sapi. Ternyata setelah pedet lahir, keuntungannya sangatlah tipis mengingat harga sapi jatuh. Pedet hanya dihargai 3,5 juta oleh bakul(pedagang) sapi. Saya cek di Pasar Ambarketawang tanggal 21 September 2010, harga pedet yang bagus (simmental/limousine) pun hanya 5 juta saja. Itu pun masih bisa ditawar. Pedet 4-5 bulan hanya 5 juta. Jika dibagi dua dengan peternak, keuntungan harga jual di bakul kecil sekali. Akhirnya diputuskan tidak jadi dilakukan penjualan. Rugi. Tidak bisa menutupi harga pembelian induk sapi yang mahal. Investasi awal yang tidak menguntungkan tidak perlu menyurutkan langkah seorang pengusaha pemula. Anggap saja kesuksesan yang tertunda. Walaupun untuk ke sekian kalinya.

Tetap saja saya berniat untuk menambah investasi sapi. Tidak selamanya pengusaha untung seperti halnya tidak selamanya pengusaha merugi. Tak ada yang abadi di dunia ini. Naik dan turun seperti gelombang sinusoidal.

Alhamdulillah, satu ilmu yang didapat dari agama dapat diimplemetasikan dalam kehidupan. Ini adalah tantangan ke depan untuk melihat pasar secara menyeluruh tidak hanya pasar jual beli Indonesia, tapi pasar jual beli dari negara lain. Harga sapi global turun ikut mempengaruhi harga sapi di Indonesia.

Semoga tetap bersabar dalam perniagaan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s