Letusan Merapi

Letusan Merapi yang bergemuruh dengan wedhus gembel yang bergerak mengikuti arah angin seperti tak kunjung padam belakangan ini. Banyak korban berjatuhan di lereng gunung Merapi. Merapi tak kenal siang dan malam. Merapi pun memuntahkan awan panasnya di gelap malam ketika sebagian para penduduk desa tertidur. Sedang tak bersiaga. Radius mereka pun masih dalam jarak aman saat itu. Takdir memang berkata lain ketika awan panas pun menyusup di desa mereka. Tak bisa ada yang bisa melawan kuasa Ilahi yang menunjukkan kebesaran-Nya dengan letusan merapi ini.

Di saat puluhan bahkan ratusan ribu pengungsi bergeser menjauhi Merapi, ada sekelompok orang yang mata pencahariannya beternak merasa takut akan nasib kehidupan ternaknya. Siapa yang akan memelihara ternak tersebut ketika mereka mengungsi. Padahal mata pencahariannya adalah dengan beternak. Bahkan ternak itu menjadi tabungan mereka untuk menyekolahkan anak ataupun yang lainnya. Mereka mengungsi dengan tiba-tiba, tidak sempat membawa ternaknya. Di saat yang sama para pencoleng pun mulai beraksi. Ada kesempatan di dalam kesempitan. Ada celah memanfaatkan bencana alam sebagai kesempatan untuk mencuri ternak. Bukan sekedar mencuri, bahkan merampok ternak.

Para peternak sapi pun gundah gulana setelah dihajar oleh sapi impor yang notabene lebih murah dari sapi yang mereka pelihara. Apalagi sapi yang diimpor dalam partai besar. Harga pun bisa turun luar biasa. Mereka bermain volume. Sekarang para peternak sapi dikejutkan dengan letusan Merapi yang sangat dahsyat. Jarak aman pun meningkat. Awan panas dengan suhu ratusan derajat. Ternak sapi tidak mungkin dibawa bersama-sama mengungsi.

Alhamdulillah ada itikad baik dari pemerintah untuk mengganti ternak sapi para peternak. Semoga itikad baik diiringi dengan pelaksanaan, pengawalan dan pengawasan yang baik dari pemerintah..

Itulah salah satu risiko usaha yang harus dipahami bersama. Tidak selamanya untung terus. Ada saat ketika harga jatuh. Risiko ternak sapi saat ini yang bisa diibaratkan dengan pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah jatuh harganya terkena sapi impor eh ada bencana lagi. Risiko usaha yang bertubi-tubi. Begitulah roda kehidupan sehingga seharusnya manusia sadar dan tidak angkuh dalam hidupnya. Keberadaan manusia adalah kecil dan saling membutuhkan satu sama lain. No one can guess the future. Sekarang para peternak sedang berada pada kondisi memprihatinkan, tetapi tidak boleh berputus asa dari rezeki yang turun atas kehendak Yang Di Atas.

Apakah siap untuk tidak beputus asa dalam kehidupan ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s