Pulang Kampung di Bulan Maret

Undangan pernikahan kakak ipar datang satu pekan sebelum hari H. Waduh, padahal tidak ada rencana pulang kampung ketika itu. Bulan Maret biasanya diisi dengan kesibukan kantor. Mengingat kakak ipar memang sudah lama menjomblo dan pernikahan biasanya acara sekali seumur hidup, saya dan istri memutuskan untuk pulang kampung juga menggunakan Rover hijau. Beberapa persiapan dadakan dilakukan agar selama di perjalanan, tidak ada kendala yang berarti. Ganti olie, bersih-bersih aki, cek lampu, dan lain sebagainya. Setelah Rover cukup greng untuk dibawa pergi, tenanglah hati ini. Kali ini saya berangkat dari rumah jam 3 pagi.

Selama perjalanan tidak ada kendala yang berarti. Jalanan pun cukup sepi karena berangkat saat sebagian manusia tertidur lelap. Sengaja pulang pagi agar bisa tidur cukup terlebih dahulu sekaligus menunggu jalanan cukup lelang bagi pengendara Rover tua.. Ternyata jalanan yang bersahabat, suasana pagi yang cukup nyaman tidak membawa kelelahan yang berarti. Hanya saja ketika melintasi jalan di Ambarawa yang berbukit, perjalanan cukup lambat disebabkan ada truk-truk ketika sedang menanjak. Sedangkan untuk menyusul truk tersebut, keadaan tidak memungkinkan dan juga jam terbang masih kurang. Otomatis hanya ketika jalan mulai melebar saja, saya memberanikan diri untuk menyalip truk di depan.

Jalanan antara Magelang lewat Belondo – Blabak – Palbapang pun sekarang lebar dan tidak macet sama sekali. Walaupun beberapa ruas masih dalam pembenahan. Perjalanan kali ini benar-benar sangat nyaman sekali.

Pedet Betina

Pangling. Mungkin itu kata yang tepat ketika pertama kali melihat pedet betina. Gede banget. Cantik sekali. Usianya hampir menginjak 10 bulan. Awalnya pedet ini ingin dijual saat lepas sapih usia 4-5 bulan, tetapi keputusan ini dibatalkan karena harga tawarnya yang sangat murah sekali menurut saya. Hanya ditawar 3,5 juta. Wah mending dipelihara dulu. Ternyata keputusan ini cukup tepat. Melihat postur tubuhnya, semoga saja bisa lebih baik dari Induknya jika digunakan sebagai induk pembibitan. Induknya saja saat ini sedang dalam kondisi bunting setelah dilakukan inseminasi buatan (IB).

Rencananya pedet ini akan dikawinkan pada usia 15 bulan setelah semua alat reproduksinya tumbuh dengan sempurna. Berikut beberapa foto pedet betina yang sudah mulai menginjak dewasa. Melihat fotonya, mungkin namanya bukan pedet lagi, tetapi menjadi sapi dara.

Gambar 1 Pedet Betina
Gambar 2 Pedet Betina
Gambar 3 Pedet Betina

Sisa-sisa Banjir Lahar Dingin

Pernikahan yang dilangsungkan pada hari Kamis berlangsung lancar. Alhamdulillah. Menjelang pulang, saya menyempatkan diri untuk jalan ke tempat lintasan banjir lahar dingin yang melewati Jalan Raya Magelang – Yogya. Beberapa dusun dan persawahan tergusur banjir lahar dingin sehingga menyebabkan warga harus mengungsi. Setelah warga berhasil menyelamatkan diri dan keluarganya, warga harus kehilangan mata pencaharian sebagai petani jika sawahnya dilintasi banjir lahar dingin. Semoga saja mata pencaharian warga bisa kembali lagi.

Kasihan juga ketika melihat daerah pengungsian di dekat KUA. Memang tenda yang didirikan lumayan bagus dan warga mendapat bantuan pangan, tetapi kehilangan tempat tinggal adalah suatu kerugian yang besar. Apalagi kondisi dan suasana pengungsian akan jauh berbeda dengan suasana rumah yang ditinggali. Benar juga ungkapan kalau harta benda itu cuma titipan dan bisa diambil sewaktu-waktu dari diri kita. Well, dalam kehidupan sehari-hari memang saya juga mengalami kalau harta itu sifatnya fana. Bisa hilang sewaktu-waktu. Cuma bisa berdoa saja agar saya tidak dicoba seberat itu.

Banjir lahar dingin memang masih terus menerus menghantui warga sekitar Magelang. Apalagi jika mulai siang turun hujan terus menerus sampai malam di Merapi. Hujan ini yang akan membawa pasir dan material vulkanik lainnya. Bahkan batu besar pun bisa dibawa oleh banjir ini. Kalau lihat di pinggiran jalan, terlihat rumah-rumah yang tertimbun pasir dan juga batu-batu besar menghiasi pinggir jalan.

Saya mendokumentasikan beberapa foto yang menggambarkan tentang suasana setelah banjir lahar dingin. Jika hari sedang terang, beberapa pengendara mobil biasanya menepi sebentar untuk melihat lokasi yang dibanjiri lahar dingin.

Gambar 4 - Rumah Warga yang Hancur

Pasir yang terbawa banjir menimbun rumah-rumah warga. Dengan begitu melimpahnya pasir, sebagian orang bisa mengangkut pasir tanpa harus berangkat ke lereng gunung Merapi.

Gambar 5 - Rumah yang Tertimbun Pasir
Gambar 6 - Rumah yang Ditimbun Pasir
Gambar 7 - BTS-nya Kemana?
Gambar 8 - Alat Berat yang Siap Beraksi
Gambar 9 - Alat Berat dan Batu Raksasa
Gambar 10 - Pasir yang Terbawa Banjir Lahar Dingin
Gambar 11 - Aliran Sungai Bercampur Lumpur
Gambar 12 - Aliran Sungai

Desa di pinggir Jalan Raya Magelang – Yogya yang terkena banjir lahar dingin adalah Desa Jumoyo. Plang Pasar Desa Jumoyo terlihat pada gambar di bawah.

Gambar 13 - Pasar Desa Jumoyo

Tempat bisnis pun harus berpindah ke tempat yang lebih aman. Bisnis harus tetap berjalan walaupun harus berubah lokasi.

Gambar 15 - Lokasi Bisnis pun Harus Berpindah

Ancaman Banjir Lahar Dingin

Banjir lahar dingin masih menjadi ancaman bagi warga Magelang seputar lintasan lahar dingin. Sewaktu-waktu hujan turun terus-menerus di Merapi, warga di lintasan sungai bisa menjadi korbannya. Jika material dan hujan yang turun cukup deras, bukan tidak mungkin ada aliran baru ataupun banjir meluap ke sekeliling sungai. Soalnya saya lihat di dekat sungai yang meluap, sawah-sawah dan desa terkena aliran banjir lahar dingin. Beberapa jembatan sudah menjadi korban keganasan derasnya banjir. Ada yang miring, dan ada juga yang ambrol.

Ketika cuti sudah hampir usai, waktu liburan akan berakhir. Tiba saatnya untuk pulang kembali ke kota Bogor. Mengingat pulang pada siang hari cukup panas, akhirnya saya memutuskan untuk pulang pada malam hari dengan konsekuensi jika mengantuk, saya akan tidur terlebih dahulu di pom bensin yang buka dan ramai. Hari itu hari Sabtu. Hujan deras turun membasahi tanah dan jalanan di Magelang. Mulai dari siang hari sampai menjelang sore. PLN pun menyempurnakan dinginnya udara Magelang dengan mematikan listrik di desa kami. ”Wah, kalau PLN mati begini, ada banjir lahar dingin nih..”, celetuk Kakak ipar saya. Kaget juga mendengar komentar ini. Apalagi malam itu, saya sekeluarga akan balik ke Bogor. Hujan tak kunjung berhenti sampai malam walaupun diselingi hujan rintik-rintik. Setelah pamit ke tetangga-tetangga, saya bersiap dan berkemas. Kakak ipar saya yang di Wonosari mengabarkan kalau ada banjir lahar dingin di berita TV. Waduh, benar nih. Berarti tidak bisa lewat Jalan Raya Magelang Yogya nih. Setelah berembuk dengan istri, saya menegaskan kalau dicoba dulu saja. Kalau tidak bisa, baru balik lagi ke rumah. Istri pun setuju.

Sepanjang perjalanan, banyak mobil melintas berlawanan arah mobil kami. Seakan menghindari melewati jalan raya Magelang Yogya. Mulai ada firasat kalau kabar banjir lahar dingin itu benar adanya. Apalagi setelah melihat ada bis yang melintas. Sesampai di pertigaan Semen, ternyata jalan arah Magelang ditutup dan diarahkan ke Purworejo. Saya pun bertanya ke pengendara motor yang sedang berteduh. Dia membenarkan kalau tidak bisa lewat Jalan Raya Magelang Yogya karena banjir sampai dada orang dewasa. Agak lemas juga mendengar itu mengingat jalan ke arah Purworejo tidak terlalu besar dan saya yakin kalau jalan itu akan macet karena banyak kendaraan yang mengarah ke sana sepanjang perjalanan. Apalagi jalan itu bermuara pada satu jembatan yang hanya muat satu mobil. Setelah terbengong-bengong sebentar di mobil, istri mengusulkan untuk isi bensin dulu sambil tanya petugas SPBU. Rover pun melaju ke arah pom bensin. Di pom bensin tersebut, saya tanya lagi jalan alternatif ke arah Magelang. Kali ini, petugas pom bensin menyarankan arah yang berbeda. Jalan yang diarahkan adalah jalan Ngepos menuju Merapi. Dalam hati saya bergumam, apa jalan ini tidak lebih berbahaya dari jalan menuju Ancol arah Purworejo? Cuma dia berusaha meyakinkan kalau jalan ini aman dilalui mobil, tetapi tidak banyak orang yang tahu jalan ini. Setelah bensin terisi penuh, saya pun menepi sebentar untuk berdiskusi dengan Istri sambil memandangi jalan yang sepi itu. Di sela-sela diskusi saya merasa aneh karena sesekali saya lihat motor melaju ke arah banjir dan ada satu dua mobil juga. Melihat hal ini, saya pun mengendarai mobil mengarah ke banjir lahar dingin. Ketemu pertigaan lampu merah, saya pun belok kanan menuju Merapi. Jalanan menanjak terus. Rover melewati Srumbung dan terus melaju. Cahaya bulan di pertengahan Robi’ul Akhir menerangi Merapi dari kejauhan. Gunung yang menjulang tinggi.

Jalanan memang cukup sepi sampai akhirnya ada petunjuk untuk belok kiri dan melewati satu jembatan yang hanya cukup satu mobil. Suasana cukup gelap karena hujan masih terus turun sehingga apa yang ada di bawah jembatan tidak terlihat. Lewat jembatan itu, ada peringatan ”awas awan panas”, ”jalur evakuasi”. Ternyata daerah ini berbahaya saat Merapi meletus. Alhamdulillah saat itu Merapi tidak meletus. Setelah itu jalan menurun sampai akhirnya ketemu Jalan Raya Magelang – Yogya. Jalan yang seharusnya hanya 4 km dari Semen ke Muntilan harus ditempuh dengan jarak 12 km karena harus memutar terlebih dahulu.

Setelah mengalami hal-hal yang cukup menegangkan, akhirnya Rover melaju di kesunyian malam. AC mobil cukup menusuk karena dingin udara malam yang disertai hujan. Mulai terbayang hiruk pikuknya Jakarta, sumpeknya kereta rel listrik Jakarta-Bogor dan semua pernak-pernik kehidupan pekerjaan. Liburan sudah usai, saatnya bekerja kembali.

One thought on “Pulang Kampung di Bulan Maret

  1. mantap kang drian… ditunggu episode berikutnya : liburan di parangtritis😀

    Kalau Pantai Depok dan Pantai Kuwaru di Yogyakarta sudah saya kunjungi, cuma Parangtritis belum nih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s