Wong Ndeso Mlebu Kutho

Beberapa waktu lalu istri saya cerita tentang ada salah seorang temannya di fesbuk yang menulis di wall-nya dengan nada mengejek. Entah itu diajukan untuk istri saya atau bukan. Saya hanya tertawa kecil menanggapi comment tersebut. Wong orang comment ya bisa macam-macam apalagi di wadah global yang bernama fesbuk. Tidak usah tersinggung. Santai saja. Hidup kan kita yang menjalani. Jadi jangan diambil Saya ingat dengan kata-kata Bapak saya yang cukup menginspirasi dalam beberapa kejadian di perjalanan hidup saya. Intinya jangan dengarkan kata-kata orang lain yang buruk tentang kita ataupun mimpi kita. Tidak ada yang tahu masa depan. Kata-kata ini sebenarnya merupakan refleksi hidup beliau yang disingkat dalam sederet untaian kata-kata.

Ketika beliau masih muda, tepatnya saat masuk kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri dengan label pertanian pada namanya, beberapa kakak kelasnya sempat mengejek. Entah dalam nada bercanda atau tidak. Mau jadi apa setelah lulus dari sini? Gamang. Itu akan dialami orang yang tidak siap dengan mimpi mereka. Dengan bekal cuek, beliau tetap kuliah di PTN tersebut. Dengan baju seadanya, uang nyaris tidak ada setiap hari, sulit makan. Trenyuh juga kalau mendengar kisah hidup beliau. Itulah yang menyebabkan beliau memilih PTN di kota hujan sebagai pilihannya. Mengingat saat itu Bapak saya tidak punya uang untuk kuliah di perguruan tinggi negeri di Jakarta akhirnya Bapak saya kuliah di perguruan tinggi di kota hujan. Wong kutho mlebu ndeso. Terbalik.

Kehidupan di kota hujan memang sunyi senyap. Jauh dari bisingnya kota Jakarta.  Sepi. Besar di Jakarta membuat separuh kehidupan hilang. Dalam perjalanan hidup pun sulit untuk menghindar dari cemoohan mau kerja apa setelah keluar dari PTN ini? Ternyata kepribadian turut menentukan nasib seseorang selanjutnya. Setelah lulus beliau menjadi dosen dan menangani banyak proyek di jaman Soeharto. Kebetulan salah satu tujuan pembangunan saat itu adalah swasembada pangan dan menjadi mandiri di sektor pertanian yang merupakan salah satu hal penting dalam pembangunan. Cemoohan, celaan, hinaan dan ejekan jadi pemicu membangun pribadi yang kuat. Dari cemoohan itu, kita bisa memperbaiki diri dan tidak terlena.

Dari kisah hidup inilah muncul sederet untaian kata-kata yang menjadi inspirasi dalam menjalani hidup. Kalau setiap cemoohan itu baiknya didengarkan dan diambil manfaatnya saja. Dijadikan sebagai salah satu bentuk kritik yang membangun.

Keadaan yang terbalik muncul pada istri saya. Wong ndeso mlebu kutho. Tetap saja harus tegar karena kehidupan kota akan berbeda dengan kehidupan desa. Di kota pun ada saja yang mencemooh perilaku kita sebaik apapun yang kita lakukan. So, cuek saja. Santai.

Sudahkah Anda tahan dengan kritikan orang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s