Dua Sisi Yang Berbeda

Dalam hidup ini, selalu ada dua sisi, seperti sisi baik dan sisi jahat, hitam dan putih, kaya dan miskin. Sisi ini sebenarnya hanyalah threshold atau batas yang dibuat. Kategori untuk memudahkan penggolongan sesuatu. Di antara dua sisi itu sebenarnya ada sisi lain. Seperti misalnya warna tidak hanya hitam dan putih, tapi ada merah, hijau, biru, kuning dan seterusnya. Begitu pun kaya dan miskin, ternyata juga ada menengah, menengah ke atas, menengah ke bawah.

Begitu pun diri saya, saya memiliki dua sisi yang berbeda dalam menjalani hidup sehari-hari. Sebagian besar waktu, saya habiskan dalam perjalanan dan bekerja, sedangkan sebagian lainnya saya habiskan bercengkerama dengan keluarga. Kadang ada sisi lain yang saya habiskan dengan teman-teman, bisnis dan lainnya. Hal ini mungkin juga dialami orang lain yang sering saya temui dalam perjalanan. Beberapa waktu yang silam, saat saya mulai pertama kali bekerja dan beberapa tahun berjalan, saya melakukannya dalam suatu kesederhanaan sehingga saat itu terbitlah salah satu tulisan berjudul Berjuang Dalam Kesederhanaan. Seiring dengan perjalanan waktu, sukses demi sukses dapat diraih. Pintu rezeki pun semakin terbuka. Strata kehidupan mulai berubah dan mengalami kenaikan. Sayangnya, gaya hidup yang sudah terpatri sejak kecil sulit berubah. Terbiasa hidup hemat, tidak suka membeli barang tanpa perencanaan, dan masih banyak lagi. Kebiasaan ini menyebabkan ada dua sisi yang berbeda dalam menjalani hidup.

Mungkin tidak semua bisa berubah dalam sekejap. Butuh waktu untuk mengubah semua yang sudah ada sekarang menjadi sesuatu yang baru. Selama sesuatu yang baru masih bisa memberi manfaat yang lebih, tidak ada salahnya mencoba.

Setidaknya selama setahun terakhir ini sudah mulai ada dua sisi yang berbeda dalam hidup. Contohnya dalam perjalanan pergi pulang  kantor. Saat pergi saya menjalani dengan bis-bis ekonomi dari Bogor ke Jakarta. Cuma ada satu sisi yang berbeda pada saat pulang, yaitu saat ini pulang saya jalani dengan bis-bis AC. Padahal sebelumnya untuk naik bis AC saja harus berpikir dua kali karena tidak ada manfaat yang bisa diambil selain lebih mahal. Setelah solusi pulang dengan kereta rel listrik Commuter Line mengalami kebuntuan karena kereta sore penuh sekali dan sering berdiri sampai Bogor, akhirnya terbetiklah keinginan untuk naik bis ke Bogor. Lumayan bermanfaat juga dengan menggunakan bis AC selain bisa duduk dengan manis di bis, bis tersebut juga masuk tol sehingga pulang dengan kereta dan bis tidak berjarak terlalu jauh. Satu hal dengan dua sisi yang berbeda.

Hal lain dengan dua sisi yang berbeda adalah selama di kantor, rata-rata makan siang saya tidak lebih dari 15 ribu Rupiah. Bahkan mendekati 10 ribu Rupiah. Ini tentu berbeda ketika bersama keluarga saat akhir pekan.  Sudah mulai sering satu kali makan berada di range 25-30 ribu per orang. Mungkin gejala ini juga menghinggapi orang lain. Makan bersama keluarga memang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Saat bersama keluarga dan bercengkerama bersama bisa membuat orang jadi lupa akan hal lain. Setidaknya ada kebahagiaan bersama walaupun dalam bentuk yang berbeda.

Ada hal yang berbeda dalam hidup kita yang tanpa kita sadari terus berjalan sepanjang hidup. Sudah mengenali dua sisi berbeda dari hidup Anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s