Harapan Baru untuk Transportasi Jakarta

Semenjak kemenangan Jokowi di pilgub Jakarta tahun ini, banyak harapan kembali muncul dari warga Jakarta dan kota satelit. Tidak terkecuali harapan dari saya, warga Bogor yang mengais rezeki yang mengais rezeki di Jakarta. Mulai harapan pembenahan administrasi birokrasi, sampai masalah banjir dan transportasi. Umumnya para pekerja yang bekerja di perusahaan-perusahaan domisili Jakarta tinggal tersebar. Tidak semuanya memiliki kedekatan antara tempat tinggal dan tempat bekerja. Bahkan beberapa tinggal di kota-kota satelit seperti Bekasi, Tangerang, Depok, dan Bogor. Alasan klise muncul ketika ditanya kenapa tidak memilih tinggal di Jakarta seperti harga rumah di Jakarta yang cenderung mahal, biaya hidup yang mahal, sekolah yang mahal, lingkungan yang tidak nyaman, ancaman banjir. Maklum tidak semua pekerja di Jakarta berasal dari Jakarta itu sendiri. Sebagian berasal dari kota yang jauh dari Jakarta yang masih mengharapkan suasana seperti kota atau kampung asal.

Peliknya hidup di Jakarta memang tidak mudah dipahami oleh orang-orang dari kampung seperti saya ini. Transportasi umum Jakarta yang dulu hanya saya lihat dari film DKI Warkop seperti bus kota, Metromini dan Kopaja akhirnya saya alami juga. Deru debu dan asap knalpot bus kota sudah menjadi makanan sehari-hari. Panasnya bus ekonomi, kemacetan yang luar biasa, lihainya para copet, melimpah ruahnya para pengamen jalanan dan pedagang asongan turut mewarnai kehidupan Senin sampai Jumat para pekerja. Memang Jakarta yang penuh mimpi memberikan harapan pada semua orang untuk memetik mimpi itu. Yang sukses bisa naik mobil mewah dan yang tidak sukses akan mengemis mengharap uluran tangan orang lain.

Wajar saja dalam petualangan di rimba belantara gedung-gedung Jakarta, satu demi satu masalah akan muncul. Jutaan kepala akan membuahkan jutaan pikiran. Jutaan kepala mudah berseberangan dan sulit untuk disatukan mejadi satu suara. Kebenaran yang berada di satu sisi bisa dijadikan suatu kesalahan di sisi yang lain. Oleh karena itu, untuk kota dengan kompleksitas yang besar ini, butuh cara bermain yang jelas yang disebut peraturan. Peraturan ini harus ditaati dan dipatuhi agar tertib bermasyarakat tercipta. Inilah sulitnya. Tidak semua orang akan patuh tentunya. Butuh kesadaran dan keterpaksaan. Aturan memang bersifat mengungkung karena membatasi kebebasan.

Sebagai warga Bogor yang bekerja di Jakarta, perlu perjuangan hanya untuk mencapai lokasi tempat bekerja. Mulai dari  waktu tempuh sampai sarana transportasi. Totally, dibutuhkan sekitar 2,5 – 3 jam untuk menempuh 58 km dalam keadaan normal. Artinya jika naik mobil pribadi dibutuhkan kecepatan 20 – 25 km per jam. Lambat memang, tapi itu kenyataan yang terjadi. Itu kondisi average. Jika kondisi abnormal, waktu tempuh akan semakin panjang. Untuk sampai Jakarta ada 3 opsi sarana transportasi yang diberikan :

  • naik mobil pribadi
  • naik kereta rel listrik (KRL)
  • naik bus

Ketiganya punya kelebihan dan kekurangan. Selalu dua sisi. Tinggal di Bogor dan kerja di Jakarta memang melelahkan. Selama masih pantas dijalani dan memang hasilnya pantas untuk dikejar, maka tidak ada alasan untuk berpangku tangan. Apapun risiko yang akan didapat, harus tetap dilakoni perjuangan dengan harapan hidup yang lebih baik.  Mungkin yang perlu dibahas adalah transportasi masal antara Jakarta – Bogor yang semakin baik ke depannya. Jika transportasi masal ini tidak diadakan maka rata-rata orang akan beralih ke mobil pribadi ataupun motor. Kadang sedih juga lihat transportasi masal KRL yang luar biasa padat dan cenderung tidak manusiawi. Laki-laki, perempuan, anak kecil, ibu hamil, manula campur jadi satu dalam gerbong-gerbong kereta. Seakan-akan warisan penjajah ini tidak hanya memberikan solusi transportasi rel kereta, tetapi juga warisan penyiksaannya terhadap orang Indonesia. Kendala perkeretaapian  seperti persinyalan, jalur kereta berbagi dengan kendaraan lain, hujan, gangguan pantograf, gangguan wessel, menghambat kereta rel listrik menjadi transportasi yang dapat diandalkan para penggunanya. Tidak dipungkiri sudah ada beberapa improvement dari KRL seperti pemisahan gerbong pria dan wanita, pembuatan kereta khusus wanita, penambahan rute perjalanan. Sayangnya pada jam-jam sibuk semua seakan tak berarti. Apa karena pengguna KRL semakin hari semakin banyak saja?

Harapan saya kepada Jokowi selaku Gubernur Jakarta alias orang nomor satu di Jakarta, transportasi yang semrawut di Jakarta semakin dibenahi. Rute-rute strategis semakin berkembang dan dibuat beberapa alternatif. Pembangunan MRT dan monorail cepat dijalankan. Peremajaan metromini dan kopaja cepat terlaksana. Syukur-syukur ada shuttle feeder dari Jakarta – Bogor yang bisa jalan 30 menit sekali. Semuanya dengan tarif yang terjangkau semua lapisan masyarakat. So, win win solution. Tentu saja ini hanya harapan dari orang pinggiran agar Jakarta menjadi salah satu kota terbaik di dunia atau setidaknya di tingkat Asia Tenggara. Semoga saja bisa terwujud.

Apa transportasi umum yang Anda naiki hari ini?

One thought on “Harapan Baru untuk Transportasi Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s